URBANCITY.CO.ID – Pemerintah menegaskan komitmennya untuk mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai tulang punggung transisi energi nasional. Dimana, Gas alam masih memainkan peran penting dalam transisi energi Indonesia terutama sebagai jembatan menuju target Net Zero Emission 2060.
Manager New and Renewable Energy (Pertamina NRE) Chandra Asmara, dalam EITS Discussion Series VII 2025: “Pemantik Bisnis Sektor ESDM 2026, Dari Hilirisasi Hingga Transisi”, di Jakarta, Senin, 15 Desember 2025,
mengatakan hal itu.
Menurut Chandra, gas memberikan solusi pragmatis di tengah keterbatasan energi terbarukan yang belum sepenuhnya mampu menopang kebutuhan listrik nasional secara andal.
Selama ini, pembangkit listrik berbasis gas—khususnya combined cycle gas turbine (CCGT)—mampu menurunkan emisi karbon secara signifikan dibandingkan pembangkit berbahan bakar batu bara.
Baca Juga: Produksi Migas dan EBT Seimbang, Ketahanan Energi NKRI 2026 Terjaga
“Emisi CCGT berada di kisaran 350–550 gram CO₂ per kilowatt jam, atau sekitar 50–70% lebih rendah dibandingkan PLTU batu bara yang rata-rata menghasilkan lebih dari 1.000 gram CO₂ per kilowatt jam,” ujarnya dikutip Jakartadaily, Selasa, 16 Desember 2025.
Chandra menilai, keunggulan gas tidak hanya terletak pada aspek emisi, tetapi juga pada fleksibilitas operasional. Sebab, pembangkit gas memiliki kemampuan fast ramping yang krusial untuk menjaga stabilitas jaringan khususnya ketika produksi listrik dari energi surya dan angin berfluktuasi.




