URBANCITY.CO.ID – Gelombang pembatalan tiket Piala Dunia 2026 telah melanda ajang sepak bola internasional ini, dengan ribuan penggemar mengurungkan niat mereka dalam satu malam. Pada Kamis, 15 Januari 2026, belasan ribu pecinta olahraga ini dilaporkan menarik diri dari pembelian tiket untuk turnamen yang diselenggarakan oleh FIFA.
Situasi ini tidak hanya mencerminkan pembatalan biasa, tetapi juga memperkuat seruan boikot terhadap Piala Dunia 2026.
Seruan tersebut bertujuan agar FIFA menyingkirkan Amerika Serikat dari daftar negara peserta. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa para penggemar sepak bola ini memilih untuk membatalkan tiket mereka?
Faktor utama adalah kekhawatiran terhadap keamanan dan ketidaknyamanan akibat iklim politik di Amerika Serikat. Media Jordania, Roya News, melaporkan pada Sabtu, 10 Januari 2026, bahwa setidaknya 16.800 penggemar telah menarik diri dari pembelian atau pemesanan tiket secara serentak.
Amerika Serikat adalah salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, bersama Kanada dan Meksiko. Keraguan muncul dari pendukung di berbagai wilayah, termasuk Eropa, Amerika Serikat, dan Afrika. Mereka menyoroti kebijakan politik dan aturan Badan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE), yang dianggap semakin agresif dalam menangkap warga.
Baca Juga : Trump Bentuk Dewan Perdamaian untuk Gaza Pasca-Perang
Media The Travel menyebutkan bahwa Gedung Putih sempat memberikan sinyal kemungkinan razia imigrasi bagi peserta dari luar Amerika Serikat. Kecemasan ini diperburuk oleh kebijakan imigrasi, seperti larangan perjalanan penuh atau sebagian bagi warga dari Iran, Haiti, Senegal, dan Pantai Gading, yang dikhawatirkan akan menghambat kehadiran suporter.
Gelombang ini juga didorong oleh influencer sebagai protes, khususnya terkait penangkapan Presiden Venezuela yang dilengserkan, Nicolas Maduro, oleh otoritas AS pada awal tahun ini.
Isu ini telah merembet ke tingkat politik global. Seruan boikot internasional disampaikan secara resmi oleh 23 anggota parlemen Inggris lintas partai. Mereka mendesak FIFA untuk mencoret AS dari daftar peserta turnamen yang akan berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Para politisi ini menilai bahwa AS sebaiknya baru diikutsertakan setelah menunjukkan “kepatuhan yang jelas terhadap hukum internasional dan penghormatan terhadap kedaulatan negara lain”.
Dalam hal ini, mereka menyatakan keprihatinan khusus terhadap kejadian yang disebut sebagai “penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro”. Mereka menganggapnya sebagai “intervensi langsung terhadap urusan dalam negeri negara berdaulat”. Selain itu, mereka juga menyinggung ancaman terselubung dan terbuka terhadap Denmark, Kolombia, dan Kuba, yang berpotensi “merusak tatanan internasional berbasis aturan”.
Anggota parlemen Inggris Brian Leishman meminta FIFA untuk bersikap konsisten. “Ini adalah invasi terhadap negara berdaulat dan penculikan seorang presiden Venezuela,” kata Leishman.
Leishman membandingkannya dengan perlakuan FIFA terhadap Rusia. Setelah invasi ke Ukraina pada 2022, Rusia dilarang oleh FIFA dari berbagai kompetisi olahraga internasional, termasuk Piala Dunia 2026. “Kalau melihat bagaimana Rusia diperlakukan, yang memang benar, saya hanya ingin ada konsistensi,” tegasnya.




