URBANCITY.CO.ID – Dari krisis energi ke presisi operasi, strategi PHR elamatkan blok Rokan. Di tengah gemuruh industri minyak dan gas yang tak pernah berhenti, Blok Rokan—wilayah kerja tersibuk di Indonesia—menghadapi ujian berat.
Awal Januari lalu, pasokan gas dari pihak ketiga terhenti mendadak, membuat sumber energi utama pembangkit listrik fasilitas produksi ikut ambruk. Dalam kondisi normal, blok ini membutuhkan beban listrik 435 megawatt agar mesin-mesin produksi berdenyut optimal.
Namun, gangguan itu memaksa sistem beroperasi pada level survival, hanya 100 megawatt. Kekurangan daya hingga 335 megawatt itu setara dengan kebutuhan listrik sebuah kota kecil—bisa berujung pada berhentinya produksi, kerusakan peralatan, bahkan kegagalan memenuhi target nasional.
Namun, di Rumbai, Sumatera Utara, yang terjadi bukanlah kepanikan, melainkan orkestrasi mitigasi yang telah dirancang matang selama bertahun-tahun.
Baca Juga: DPR Puji Inovasi Teknologi PHR Jaga Ketahanan Energi Nasional
Di balik penurunan daya yang terlihat dari luar, ada kerja senyap: koordinasi antara teknologi otomatisasi dan analisis tajam para insinyur.
Sistem kelistrikan Pertamina Hulu Rokan (PHR) dibangun dengan lapisan pertahanan kokoh, seperti yang diungkapkan Winarto, Senior Manager Power Generation & Transmission (PGT).
“Sistem kelistrikan PHR dibangun dengan lapisan pertahanan yang kokoh,” katanya, menjelaskan fondasi energi di Blok Rokan.
PHR mengoperasikan Sistem Manajemen Beban yang dievaluasi menyeluruh minimal setiap tiga tahun. Intinya adalah mekanisme otomatis bernama 10 Level Pemadaman atau Load Shedding, dirancang untuk kondisi darurat.




