URBANCITY.CO.ID – Sinyal optimisme dari digit Terakhir, ekonomi tumbuh 5,11 Persen. Di tengah fluktuasi pasar global, ekonomi Indonesia justru menunjukkan ototnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi kumulatif sepanjang 2025 mencapai 5,11 persen, dengan lonjakan impresif 5,39 persen pada kuartal IV. Angka ini lebih mentereng ketimbang capaian dua tahun sebelumnya yang tertahan di angka lima persen koma kecil.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyambut kabar ini dengan sikap waspada sekaligus optimistis. Baginya, angka pertumbuhan bukan sekadar hiasan statistik, melainkan kompas untuk meracik strategi ekonomi kreatif ke depan. Namun, Riefky mengingatkan bahwa kebijakan yang mumpuni tak bisa lahir dari data yang kabur.
“Pertumbuhan ekonomi ini harus ditopang oleh data yang akurat dan komprehensif. Kementerian Ekraf mendukung pelaksanaan Sensus Ekonomi Nasional karena data yang kuat adalah fondasi bagi kebijakan berbasis data (data-driven policy making) yang efektif,” ujar Teuku Riefky, Sabtu, 7 Februari 2026.
Baca Juga: Pemerintah Dorong Ekraf Daerah Jadi Tulang Punggung Ekonomi Nasional
Mengejar Potret Sepuluh Tahunan
Agenda besar kini menanti di depan mata: Sensus Ekonomi 2026 (SE2026). Hajatan sepuluh tahunan BPS ini akan digelar pada 1 Mei hingga 31 Juli mendatang. Bagi Kementerian Ekraf, sensus ini adalah momen krusial untuk memotret ulang anatomi subsektor ekonomi kreatif yang selama ini kerap dianggap “liar” dan sulit terdata secara presisi.
Data BPS menunjukkan bahwa sektor jasa lainnya tumbuh paling kencang dengan angka 9,93 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa menjadi mesin utama dengan kontribusi 7,03 persen terhadap PDB nasional. Namun, potret spasial masih menunjukkan ketimpangan; Pulau Jawa masih mendominasi dengan kontribusi mencapai 56,93 persen.




