URBANCITY.CO.ID – Di hadapan para mahasiswa dan alumni Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Jumat, 6 Februari 2026, Airlangga Hartarto bicara soal ekonomi dengan metafora yang akrab di telinga audiensnya: mesin.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu tengah membedah strategi pemerintah dalam menjaga akselerasi tanpa membuat stabilitas makroekonomi “turun mesin”.
Airlangga menganalogikan manajemen ekonomi nasional serupa mengemudikan kendaraan. Jika di era pandemi kebijakannya adalah “gas dan rem”, kini fokus beralih pada apa yang disebutnya sebagai Three Engines of Growth atau Tiga Mesin Pertumbuhan.
”Sekarang kita bicara tiga mesin pertumbuhan ekonomi, dan pendekatan itu tetap sama, bagaimana mengatur akselerasi tanpa mengorbankan stabilitas,” tuturnya.
Manufaktur hingga Bioteknologi
Mesin pertama adalah penguatan otot industri manufaktur. Sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, hingga otomotif dan ekosistem kendaraan listrik tetap menjadi tumpuan utama.
Meski teknologi kian canggih, Airlangga meyakini industri tekstil tak akan mati ditelan zaman karena kebutuhan global yang terus mendaki, sekaligus kemampuannya menyerap jutaan tenaga kerja.
Mesin kedua bergerak di ranah inovasi. Pemerintah mulai melirik penguatan digitalisasi, kecerdasan buatan, bioteknologi, hingga industri semikonduktor.




