URBANCITY.CO.ID – Siasat PHE menjinakkan penurunan alami di jalur transisi, langkah panjang ketahanan energi. Di tengah bayang-bayang penurunan produksi alamiah (natural decline), PT Pertamina Hulu Energi (PHE) tampak enggan mengendurkan urat syaraf.
Dalam forum diskusi Webinar De Talk di Jakarta, Rabu, 4 Februari lalu, Subholding Upstream Pertamina ini menegaskan posisinya sebagai tulang punggung pasokan energi domestik.
Bukan perkara mudah, sebab PHE kini memikul beban mengelola lebih dari seperempat wilayah kerja migas di seantero negeri.
Catatan sepanjang 2025 menunjukkan taji PHE belum tumpul. Produksi tercatat menyentuh angka 1,03 juta barel setara minyak per hari (BOEPD), yang dikerek oleh produksi minyak 557 ribu barel per hari dan gas sebesar 2,76 miliar standar kaki kubik per hari. Angka ini setara dengan kontribusi dua pertiga produksi minyak dan sepertiga gas nasional.
Baca Juga: PHE WMO Selamatkan Enam Awak Kapal Bocor di Gresik
Direktur Manajemen Risiko PHE, Whisnu Bahriansyah, menyebut bahwa menjaga ketahanan energi adalah kerja maraton yang membutuhkan napas panjang dan strategi ganda.
“Ketahanan energi nasional hanya bisa dicapai dengan kerja yang konsisten, terukur, dan berkelanjutan. PHE menjalankan dual growth strategy dengan tetap memaksimalkan bisnis hulu migas sekaligus membangun fondasi bisnis rendah karbon,” ujar Whisnu.
Eksploitasi Agresif dan Jejak Karbon
Demi mengejar target satu juta barel, PHE “menghujani” lapangan migas dengan operasi masif. Tercatat ada 886 pengeboran sumur eksploitasi dan 20 sumur eksplorasi yang rampung sepanjang tahun lalu.




