URBANCITY.CO.ID – Sektor besi dan baja bukan sekadar komoditas; ia adalah “ibu dari segala industri”. Di tengah ambisi swasembada infrastruktur, penguatan ekosistem baja nasional menjadi harga mati agar ekonomi tak goyah diterjang dinamika global.
Pesan ini menjadi inti pidato kunci Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri dalam Musyawarah Nasional (Munas) Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) ke-5 di Jakarta, Rabu, 11 Februari 2026.
Roro menekankan bahwa ketangguhan industri ini bergantung pada kolaborasi erat antara regulator dan pelaku usaha.
“Kita harus bersinergi untuk memperkuat ekosistem industri besi dan baja nasional. Dengan kolaborasi yang solid, kita dapat meningkatkan produksi, menjaga daya saing, serta memastikan industri dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor,” ujar Roro.
Baca Juga: Navigasi Baru di Tengah Badai Global, Wamendag Roro: Proaktif Kejar Peluang untuk Majukan ASEAN
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 memberikan potret cerah: sektor besi dan baja (HS 72) menyumbang surplus sebesar US$ 18,44 miliar bagi neraca perdagangan. Indonesia kini bertengger di peringkat ke-14 produsen baja mentah dunia, sebuah posisi tawar yang signifikan.
Namun, lonjakan konsumsi domestik yang diproyeksikan mencapai 19,3 juta ton pada 2025 menjadi tantangan sekaligus peluang bagi produsen lokal untuk unjuk gigi di rumah sendiri.
Pemerintah pun tak tinggal diam menghadapi serbuan produk impor yang kerap bermain di zona abu-abu. Roro menegaskan penggunaan instrumen trade remedies—seperti kebijakan antidumping dan subsidi—sesuai koridor WTO untuk membentengi industri dalam negeri.




