URBANCITY.CO.ID – Denda seekor babi dan lima ekor ayam menjadi penutup perselisihan panjang. Pandji datang membawa nyali ksatria.
Semyum pemimpin adat Toraja itu mengembang saat jabatan tangannya dibalas erat oleh Pandji Pragiwaksono. Di dalam Tongkonan Kaero yang telah berdiri selama delapan abad, ketegangan yang memuncak sejak viralnya materi komedi tahun 2013 tentang ritual Rambu Solo akhirnya meluruh.
Selama dua hari, 10-11 Februari 2026, sang komika harus berhadapan dengan “sidang” yang tak biasa: tatapan dan pertanyaan dari 32 perwakilan masyarakat adat.
Pandji tak datang dengan pembelaan jenaka. Ia hadir memenuhi ritual Ma’Buak Burun Mangkali Oto’—sebuah ruang pemulihan adat yang difasilitasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) di Sanggalla, Tana Toraja.
Baca Juga: Pandji Pragiwaksono Bertabayyun ke MUI, Janji Perbaiki Materi Komedi Sensitif
Melalui unggahan di media sosialnya pada Kamis, 12 Februari 2026, Pandji menceritakan bahwa kehadirannya adalah sebuah kejutan bagi para tetua yang semula meragukan iktikadnya.
“Ketika melihat saya berjalan memasuki Tongkonan Kaero yang berusia 800 tahun, menurut beliau dan beberapa tetua, kemarahan orang mereda,” ungkap Pandji.
Bukan sekadar hadir, Pandji juga “memamerkan” silsilah yang terselip di balik namanya. Di hadapan para pemimpin adat, ia menegaskan identitasnya sebagai pertanggungjawaban moral atas kegaduhan yang pernah ia buat. Ia merasa takdirnya memang harus membuka jalan bagi pembelajaran sesama rekan seprofesi.
“Usai upacara saya mendatangi, menjabat tangan beliau dan memberi tahu sesuatu,” tuturnya. Ia melanjutkan dengan penuh penekanan, “Bapak perlu tahu, nama panjang saya Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo. Wongso Yudo artinya Bangsa Perang. Alias Ksatria.”




