UBANCITY.CO.ID – Minyak jelantah tak lagi sekadar limbah yang berakhir di selokan atau, lebih buruk lagi, dikemas ulang menjadi minyak goreng oplosan. Pertamina kini membidik sisa penggorengan dari dapur-dapur rumah tangga sebagai amunisi energi masa depan.
Menggandeng Gabungan Pengusaha Limbah Minyak Goreng Indonesia (GAPULIMGI), perusahaan pelat merah ini tengah menyusun cetak biru ekosistem nasional Used Cooking Oil (UCO) yang berkelanjutan.
Sinergi ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam rantai pasok energi hijau, terutama untuk menyokong produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar aviasi ramah lingkungan.
Ketua Asosiasi GAPULIMGI, Tommy Lim, menyebut kolaborasi ini sebagai langkah krusial untuk memberikan kepastian pasar. “Kolaborasi dengan Pertamina ini tidak hanya memperkuat rantai pasok, tetapi juga memberikan kepastian pasar bagi pelaku pengumpulan, UMKM, dan masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Strategi Jalur Ganda Pertamina: Antara Ketahanan Energi Nasional dan Ambisi Transisi Hijau 2045
Dari Dapur ke Langit
Pilihan melibatkan masyarakat bukan tanpa alasan. Tommy memaparkan bahwa lebih dari 60 persen konsumsi minyak goreng nasional berasal dari rumah tangga dan UMKM. Artinya, volume terbesar jelantah justru tersebar di gang-gang permukiman.
“Tanpa partisipasi aktif masyarakat, rantai pasok UCO nasional tidak akan optimal,” tegas Tommy. Baginya, keterlibatan publik adalah kunci untuk menekan praktik ilegal daur ulang minyak jelantah sekaligus menjaga stabilitas pasokan energi hijau.




