URBANCITY.CO.ID – Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi memberikan catatan kritis terhadap rencana ekspansi internasional Bank Syariah Indonesia (BSI) pada tahun 2026.
Meski mengapresiasi kinerja positif sepanjang 2025, Noviardi mengingatkan agar bank syariah terbesar di Indonesia ini menjalankan ekspansi secara disiplin dan terukur guna menjaga profitabilitas.
Menurut Noviardi, momentum pertumbuhan yang kuat harus tetap diimbangi dengan pengendalian biaya, penguatan manajemen risiko, serta strategi ringan aset (asset-light strategy). Hal ini penting agar ambisi global tidak justru membebani kinerja keuangan perusahaan.
Performa Solid Sepanjang 2025
BSI menutup tahun 2025 dengan fondasi yang dinilai semakin solid. Perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar Rp7,57 triliun atau tumbuh 8,02 persen secara tahunan (year-on-year). Total aset tercatat mencapai Rp416 triliun dengan penyaluran pembiayaan sebesar Rp300,85 triliun.
Baca Juga: Pertama di Indonesia, BSI Gelar International Expo Bank Syariah
Kualitas aset juga terjaga dengan rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) gross di bawah dua persen. Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 15,66 persen, didorong oleh lonjakan transaksi digital yang menembus angka Rp763 triliun.
Risiko Biaya Regulasi di Pasar Internasional
Terkait rencana melebarkan sayap ke luar negeri, Noviardi menyarankan agar BSI mengawali langkah dengan pendekatan berbasis kemitraan dan digital, terutama untuk menyasar segmen haji, umrah, dan diaspora.




