URBANCITY.CO.ID – Langkah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75 persen pada Februari 2026 dinilai sebagai strategi bertahan yang paling rasional.
Otoritas moneter dianggap lebih memilih jalur stabilitas di tengah fluktuasi global dan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah yang sempat mendekati angka Rp16.880 per dolar AS.
Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi memandang keputusan tersebut sebagai refleksi sikap kehati-hatian tingkat tinggi. Menurutnya, dinamika suku bunga Amerika Serikat dan memanasnya geopolitik dunia tidak menyisakan banyak ruang bagi BI untuk melakukan pelonggaran.
Prioritas utama saat ini adalah membentengi cadangan devisa agar tetap berada di atas standar kecukupan internasional.
Baca Juga: Bank Indonesia Pertahankan BI Rate 6,00 Persen Demi Stabilitas Rupiah
Meskipun pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 tercatat solid di angka 5,11 persen, Noviardi mengingatkan adanya persoalan struktural yang masih menghambat sektor riil.
Persoalan Transmisi dan Kredit Menganggur
Noviardi menyoroti fenomena tingginya angka undisbursed loan atau pinjaman yang sudah disetujui namun belum ditarik oleh dunia usaha. Hal ini mengindikasikan bahwa suku bunga rendah bukan satu-satunya faktor penentu geraknya investasi.
“Masalahnya bukan sekadar level suku bunga, melainkan transmisi kebijakan. Jika likuiditas longgar tetapi investasi belum bergerak optimal, maka reformasi struktural harus dipercepat,” tegas Noviardi saat membedah tantangan investasi sektor riil, Jumat, 20 Februari 2026.




