URBANCITY.CO.ID – Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menegaskan pentingnya menjaga kearifan lokal sebagai mesin penggerak ekonomi daerah. Hal ini disampaikannya saat menghadiri prosesi ritual Tradisi Blangikhan di Nuwo Balak, Lampung Tengah, Rabu, 18 Februari 2026.
Menurut Ni Luh, tradisi penyucian diri menyambut Ramadan ini bukan sekadar seremoni rutin, melainkan bukti nyata pariwisata yang tumbuh dari inisiatif masyarakat. Ia menilai, penguatan ekosistem pariwisata berbasis budaya dan spiritual merupakan bagian integral dari strategi nasional.
“Budaya adalah napas dari pariwisata berkualitas, pariwisata yang berdaya saing, berkelanjutan, dan berakar kuat pada identitas bangsa,” ujar Ni Luh Puspa dalam sambutannya.
Simbol Penyucian dan Penggerak Ekonomi
Tradisi Blangikhan, yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2019, melibatkan ritual mandi dengan air dari tujuh mata air. Secara filosofis, ritual ini merupakan simbol pembersihan lahir dan batin bagi masyarakat Lampung.
Baca Juga: Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Magnet Wisata Spiritual Dunia
Namun di luar aspek spiritual, perayaan tahun ini juga menjadi panggung bagi UMKM lokal. Ni Luh menekankan bahwa keterlibatan pengusaha kecil dalam rantai kegiatan budaya ini membuktikan bahwa tradisi mampu memberikan dampak ekonomi yang konkret.
“Inilah wujud nyata pariwisata yang tumbuh dari masyarakat, dikelola bersama, dan memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan lokal,” kata Wamenpar.
Ia menambahkan, “Tradisi ini menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan masa depan yang dapat menjadi fondasi pembangunan pariwisata berkelanjutan.”




