URBANCITY.CO.ID – Warga kawasan Spring, utara pusat kota Houston, Texas, dikejutkan oleh jatuhnya fragmen batuan luar angkasa yang menembus atap rumah penduduk. Objek berukuran buah melon tersebut diduga merupakan bagian dari rangkaian ledakan meteor bola api (fireball) yang melintasi langit Amerika Serikat dalam sepekan terakhir.
Insiden ini menimpa kediaman Sherrie James Williams. Meski tidak ada korban jiwa, hantaman meteorit tersebut meninggalkan lubang menganga di langit-langit kamar tidurnya.
“Saya mendengar suara ledakan besar di kamar putri saya, dan saya pikir mungkin ada sesuatu yang jatuh,” ujar Williams kepada media lokal, Rabu, 25 Maret 2026.
Baca Juga : Teheran Bantah Klaim Donald Trump Soal Negosiasi Rahasia Iran-Amerika Serikat
Kecurigaan Williams terbukti saat anggota keluarganya memeriksa sumber suara. “Cucu saya pergi memeriksa dan mengatakan ada lubang di langit-langit. Lalu saya melihat batu itu, dan saya berpikir, itu sepertinya meteor,” katanya.
Awalnya, petugas pemadam kebakaran setempat menduga benda tersebut adalah serpihan pesawat. Namun, laporan masif mengenai penampakan bola api di langit Texas mengubah arah penyelidikan.
Berdasarkan data Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), meteor tersebut memiliki diameter sekitar satu meter dengan bobot mencapai satu ton sebelum pecah di atmosfer.
“Analisis data yang tersedia saat ini menunjukkan bahwa meteor tersebut terlihat pada ketinggian 49 mil di atas Stagecoach, yang terletak di barat laut Houston. Meteor itu bergerak ke tenggara dengan kecepatan 35.000 mil per jam, dan pecah pada ketinggian 29 mil di atas Bammel, tepat di sebelah barat Stasiun Cypress,” tulis pernyataan resmi NASA, Sabtu, 21 Maret 2026.
Ledakan meteor ini melepaskan energi yang sangat besar, yakni setara dengan 26 ton bahan peledak TNT. Kekuatan tersebut menciptakan gelombang tekanan yang merambat hingga ke permukaan tanah, memicu dentuman keras yang terdengar di berbagai wilayah Texas. Radar cuaca Doppler menunjukkan jejak jatuhnya meteorit berada di antara area Willowbrook dan Northgate Crossing.
Kejadian di Houston ini bukanlah peristiwa tunggal. Live Science melaporkan adanya peningkatan aktivitas bola api di langit Amerika Serikat sejak pertengahan Maret.
Rangkaian fenomena ini dimulai pada 17 Maret di Ohio, di mana meteor seukuran mobil meledak dan memicu ledakan sonik yang memecahkan jendela di Cleveland. Pada 22 Maret, penampakan serupa terlihat di langit California, Arizona, dan Nevada oleh lebih dari 200 saksi mata.
NASA mencatat sedikitnya sembilan bola api besar terdeteksi di AS sejak awal Februari. Para ahli menyebut periode Februari hingga April sebagai musim “bola api musim semi”. Meski penyebab pastinya masih diteliti, fenomena ini diduga berkaitan dengan posisi orbit Bumi terhadap Matahari yang meningkatkan frekuensi batuan luar angkasa memasuki atmosfer.
Kasus meteorit menghantam pemukiman, meski jarang, telah beberapa kali tercatat secara global, termasuk di New Jersey (2023) dan Georgia (2025). Insiden di Houston menjadi pengingat bagi para ilmuwan mengenai potensi ancaman batuan luar angkasa yang mampu menembus perlindungan atmosfer hingga mencapai area berpenduduk.




