URBANCITY.CO.ID – Dinamika pasar saham domestik sepanjang Maret 2026 bergerak fluktuatif mengikuti tren bursa global dan regional.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa peningkatan volatilitas ini tak lepas dari bayang-bayang konflik geopolitik yang masih membara di Timur Tengah.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup bulan Maret di level 7.048,22. Angka ini menunjukkan koreksi sebesar 14,42 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) atau merosot 18,49 persen sejak awal tahun (year-to-date/ytd).
Sejalan dengan itu, Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) juga mengalami moderasi ke angka Rp20,66 triliun, turun dari posisi Februari yang sebesar Rp25,62 triliun.
Penurunan ini mencerminkan sikap wait-and-see para pelaku pasar di tengah ketidakpastian global yang kian pekat.
Eksodus Modal Asing dan Kinerja Obligasi
Baca Juga: Menteri Keuangan Yakin IHSG Tidak Akan Turun Drastis Saat Pembukaan Senin
Tekanan pada pasar saham diperberat oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp23,34 triliun sepanjang Maret.
Fenomena ini berbanding terbalik dengan kondisi Februari yang masih mencatatkan beli bersih (net buy) tipis Rp0,36 triliun. Lonjakan jual ini disebut dipicu oleh transaksi besar di pasar negosiasi pada sejumlah emiten.
Kondisi serupa merembet ke pasar obligasi. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) terkoreksi 2,03 persen mtm ke level 433,16.
Di saat yang sama, yield Surat Berharga Negara (SBN) naik rata-rata 44,47 bps seiring meningkatnya persepsi risiko. Investor nonresiden tercatat melakukan net sell sebesar Rp21,80 triliun di pasar SBN.




