Salah satu “pemantik” utamanya ada pada pendekatan cerita. Alas Roban mengangkat mitos, pantangan, hingga nuansa perjalanan malam di jalur Pantura Jawa Tengah mulai dari larangan-larangan yang dipercaya masyarakat, sampai ketegangan psikologis saat melintasi kawasan yang dikenal minim penerangan.
Secara cerita, film ini mengikuti Sita (Michelle Ziudith), ibu tunggal asal Pekalongan yang berangkat ke Semarang bersama putrinya, Gendis (Fara Shakila). Perjalanan memakai bus terakhir melewati Alas Roban berubah jadi petaka ketika bus mogok dan teror mulai mengincar Gendis, membawa Sita pada rangkaian ritual yang harus dituntaskan sebelum “malam keramat”.
Faktor lain yang ikut menaikkan gairah nonton adalah strategi penjualan tiket sejak awal. Di periode menjelang tayang, promo buy 1 get 1 untuk advance ticket sales sempat digelar di aplikasi tiket, berlaku 9–14 Januari 2026 untuk penayangan perdana 15 Januari 2026, sehingga banyak penonton mengamankan kursi lebih cepat.
Selain promo, ada juga aktivasi yang bikin film ini makin sering dibicarakan. Salah satunya, gala premiere yang dibuat “beda”: area lobi bioskop disulap menyerupai suasana Alas Roban, memperkuat pengalaman imersif sekaligus jadi bahan konten warganet sebelum filmnya benar-benar tayang luas.
Dengan campuran horor psikologis dan drama keluarga, serta label tontonan untuk penonton dewasa, Alas Roban tampak membuka Januari dengan energi yang kencang di layar lebar sekaligus ikut menegaskan bahwa awal 2026 bisa jadi momen baru untuk menjaga bara antusiasme penonton film Indonesia.






