URBANCITY.CO.ID – Jakarta saat ini sedang berada dalam fase “normalisasi yang disiplin,” di mana pertumbuhan didorong oleh fundamental ekonomi domestik yang kuat di tengah ketidakpastian global. Berikut adalah perbandingannya dengan tetangga regional kita:
1. Sektor Perkantoran: Pertarungan Okupansi
Jakarta menunjukkan ketahanan yang mengejutkan dibandingkan kota-kota seperti Bangkok yang sedang menghadapi tantangan oversupply.
Jakarta: Tingkat okupansi CBD mencapai 76% (2025 akhir) dengan tren flight-to-quality. Terbatasnya pasokan baru di 2026 justru membantu menjaga stabilitas harga sewa.
Singapura: Tetap menjadi pemimpin pasar dengan tingkat okupansi di atas 90%. Namun, Singapura menghadapi tantangan biaya konstruksi dan tenaga kerja yang melonjak tinggi, yang membuat harga sewa terus meroket melampaui kemampuan sebagian penyewa.
Bangkok & Manila: Kedua kota ini masih berjuang dengan pasokan gedung baru yang sangat besar, yang menyebabkan tingkat kekosongan (vacancy rate) tetap tinggi dibandingkan Jakarta yang pasokannya mulai melambat.
2. Logistik & Industri: Efek Kendaraan Listrik (EV)
Di sektor ini, Jakarta (dan Indonesia secara umum) memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi oleh negara tetangga berkat hilirisasi industri.
Indonesia: Menjadi pusat perhatian karena ambisi menjadi pusat produksi kendaraan listrik (EV) global. Penyerapan lahan industri (218 ha) dan okupansi logistik (95%) adalah salah satu yang tertinggi di kawasan ini.
Vietnam (Ho Chi Minh City): Tetap menjadi pesaing terberat Jakarta untuk relokasi manufaktur dari China. Vietnam diprediksi tumbuh kencang dengan CAGR 6,72% hingga 2031, namun Indonesia unggul dalam hal besarnya pasar domestik.




