URBANCITY.CO.ID – Sebuah kegelisahan mendalam tengah menyelimuti sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia.
Pengamat industri, Kus Rahardjo, melontarkan analogi tajam untuk menggambarkan kondisi terkini industri penunjang migas domestik: ibarat panggung dangdut di jantung ibu kota yang biduannya digantikan artis asing.
Menurut Kus, selama puluhan tahun Indonesia telah membangun taji di industri penunjang migas. Produsen lokal telah membuktikan mampu memasok peralatan, komponen, hingga teknologi tinggi yang sesuai dengan karakter geografis tanah air. Namun, kini “panggung” tersebut perlahan mulai dikuasai oleh pemain luar.
“Aneh, tapi itulah gambaran yang kini mulai terasa di sektor lain,” ujar Kus Rahardjo saat merefleksikan serbuan produk impor yang kian mendominasi proyek-proyek strategis nasional.
Baca Juga: Kemenperin Validasi Industri Kecil untuk TKDN Self Declare: Syarat, Prosedur, dan Aturan Terbaru
Panggung Lokal, Pemain Global
Kus menilai fenomena ini bukan sekadar dinamika pasar bebas biasa. Ada pergeseran peran yang sistematis di mana produk dalam negeri yang memiliki kualitas setara justru tidak mendapatkan ruang yang adil.
Masuknya perusahaan asing yang membawa barang jadi dari negara asalnya perlahan menyingkirkan peran pabrikan lokal.
Ia menegaskan bahwa persoalan ini melampaui standar teknis semata. “Ini bukan sekadar soal kualitas. Ini soal keberpihakan dan kesempatan,” tegas Kus.
Analogi dangdut kembali ia tekankan. Dangdut akan tetap hidup siapa pun penyanyinya, namun identitas dan ruhnya akan hilang jika pelaku aslinya tersingkir.




