Begitu pula dengan sektor migas; industri mungkin tetap berjalan dengan sokongan impor, namun kemandirian nasional dan keberlanjutan jangka panjang menjadi taruhan yang sangat besar.
Baca Juga: Audit Forensik KKKS: Jaga Marwah TKDN, Dorong Inovasi Anak Bangsa
Menagih Kedaulatan di Rumah Sendiri
Kondisi ini menciptakan ironi yang menyesakkan: kemampuan lokal tersedia melimpah, namun karpet merah justru lebih sering terbentang bagi produk dari Amerika Serikat atau China.
Penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang selama ini didengungkan pemerintah seolah membentur tembok realitas di lapangan.
Di ujung pernyataannya, Kus Rahardjo mengajukan pertanyaan retoris yang menggugah kesadaran kolektif pemangku kebijakan. Apakah Indonesia rela hanya menjadi penonton di rumah sendiri?
Persoalan ini menjadi ujian bagi arah pembangunan ekonomi nasional. Pada akhirnya, baik di panggung musik maupun industri strategis, esensinya tetap sama: siapa yang diberi kepercayaan dan siapa yang benar-benar berdaulat menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. (*)






