URBANCITY.CO.ID – Di bawah benderang lampu Hall 1 ICE-BSD City, Tangerang Selatan, gairah pelesir Tanah Air kembali diuji. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, pada Jumat, 6 Februari 2026, resmi membuka Astindo Travel Fair 2026.
Ajang tahunan ini bukan sekadar bursa tiket murah, melainkan barometer bagi ambisi pemerintah menjaga “demam” berwisata yang terus mendidih sejak tahun lalu.
Catatan sepanjang 2025 memang cukup mentereng untuk dipamerkan. Angka kunjungan wisatawan mancanegara menyentuh 15,39 juta, melonjak 10,80 persen. Di pasar domestik, pergerakan warga lokal bahkan menembus 1,20 miliar perjalanan.
“Capaian yang diraih memperlihatkan hasil kolaborasi yang baik dari seluruh pemangku kepentingan sektor pariwisata,” ujar Ni Luh Puspa di hadapan para pelaku industri.
Baca Juga: Pariwisata Berkelanjutan di Bali Ocean Days 2026, Wamenpar: Jaga Ekosistem Laut!
Panen Piagam di Panggung Dunia
Namun, Kementerian Pariwisata tampaknya tak ingin hanya terjebak dalam romantisme angka. Kualitas menjadi mantra baru yang terus didengungkan. Tahun lalu, Indonesia kebanjiran 154 penghargaan internasional—mulai dari Michelin Keys untuk 33 hotel hingga pengakuan Desa Wisata Pemuteran dan Osing Kemiren oleh UN Tourism.
Pengakuan global ini, menurut Ni Luh, adalah modal sosial untuk mempertebal kepercayaan dunia. “Semakin baik citra Indonesia di mata dunia, semakin besar pula minat wisatawan untuk berkunjung ke berbagai destinasi dan daya tarik wisata kita,” katanya. Strateginya jelas, citra premium untuk menarik turis yang rela merogoh kocek lebih dalam.




