Baca Juga: ASDP Catat Lonjakan Pemudik Usai Kebijakan WFA Diterapkan
Sementara tinggi gelombang signifikan diperkirakan berada di rentang 1,2–1,6 meter, dengan potensi meningkat secara fluktuatif mengikuti dinamika atmosfer harian.
Dalam kondisi tersebut, sejumlah kapal penyeberangan di Selat Sunda dilaporkan menghadapi tantangan navigasi akibat gelombang dan angin kencang, di antaranya KMP Rishel milik PT Surya Timur Lines dan KMP Dorothy milik Damai Lintas Bahari pada akhir pekan lalu.
Peristiwa ini menegaskan bahwa cuaca ekstrem dapat berdampak pada stabilitas pelayaran dan pengamanan muatan, sehingga kewaspadaan serta kepatuhan terhadap standar keselamatan menjadi hal krusial bagi operator maupun pengguna jasa.
Heru menegaskan bahwa prakiraan BMKG menjadi acuan utama dalam setiap kebijakan operasional penyeberangan. Keselamatan adalah prioritas mutlak. ASDP tidak akan memaksakan operasional apabila kondisi cuaca berisiko.
Baca Juga: Strategi Cerdas ASDP Sambut Lonjakan Arus Mudik Lebaran 2025
“Kami mengimbau masyarakat untuk mengatur waktu perjalanan dengan bijak, memantau informasi cuaca terkini, serta tidak memaksakan diri menyeberang ketika kondisi tidak aman,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, ASDP melakukan penyesuaian operasional secara dinamis melalui koordinasi intensif dengan KSOP dan BPTD, termasuk pengaturan ulang jadwal hingga penundaan keberangkatan bila diperlukan.
Di sisi darat, pengaturan arus lalu lintas sekitar pelabuhan, optimalisasi kantong parkir, serta pengendalian kepadatan kendaraan terus diperkuat demi menjaga keselamatan dan kelancaran layanan. (*)






