Baca Juga: Curhat Pilu Korban Banjir di Huntara Aceh Tamiang: Beri Kami Rumah, Pak Presiden!
“Prinsipnya layanan dasar kepada masyarakat terdampak harus terpenuhi, mulai sekolah, kesehatan, bahan pokok, makanan, dan lain sebagainya, tidak boleh ketinggalan,” ujar Luthfi.
Kesaksian Warga: Air Setinggi Dada
Bencana ini menyisakan trauma bagi warga, salah satunya Musri’ah, penduduk Desa Trimulyo. Ia menceritakan detik-detik mencekam saat tanggul Sungai Tuntang jebol dan air bah menerjang pemukiman dengan sangat cepat.
“Kejadiannya sekitar pukul 10.00 WIB, saya di rumah. Tiba-tiba airnya mengalir deras sekali dari tanggul, lama-lama jebol,” beber Musri’ah.
Menurutnya, debit air terus meningkat secara drastis hingga sore hari, memaksa petugas melakukan evakuasi menggunakan sarana air. “Setelah ashar kami dijemput perahu, waktu itu airnya udah setinggi dada,” ungkapnya.
Baca Juga: Pantau Aceh Tamiang, Presiden Prabowo Sebut Pemulihan Pasca-Banjir Capai 100 Persen
Saat ini, prioritas pemerintah daerah adalah menutup titik tanggul yang jebol serta memastikan distribusi logistik di posko-posko pengungsian berjalan lancar.
Koordinasi lintas sektor terus diperkuat guna mengantisipasi adanya banjir susulan mengingat curah hujan yang masih fluktuatif di wilayah hulu. (*)






