Di sisi lain, InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) selaku pengelola kawasan memastikan bahwa infrastruktur di dalam KEK Mandalika sebenarnya telah dilengkapi sistem drainase terintegrasi dan kolam retensi.
Pengembang mengklaim seluruh pembangunan telah melalui kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang ketat.
PGS. General Manager The Mandalika, Agus Setiawan, menegaskan komitmennya untuk berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam membenahi sistem tata air ini.
“ITDC sebagai pengembang dan pengelola kawasan siap untuk terus berkolaborasi secara terbuka dan konstruktif bersama seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah daerah, pelaku usaha, maupun masyarakat, guna memastikan pengembangan KEK Mandalika berjalan secara terintegrasi, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi daerah,” ujar Agus.
Baca Juga: Gakkum KLH Panggil 36 Saksi Kasus KEK Lido, Dugaan Kerusakan Lingkungan Makin Terang
Normalisasi Aliran Air
Secara teknis, ITDC telah bergerak bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I untuk mempercepat normalisasi aliran air. Alat-alat berat dikerahkan untuk membersihkan material sedimen yang menyumbat jalur pembuangan.
Dr. Aka menambahkan bahwa penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara parsial atau hanya fokus pada satu titik kawasan saja. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi menjadi kunci untuk menghadapi perubahan iklim yang kian ekstrem.
“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ketangguhan kawasan harus dibangun bersama. Ini bukan soal saling menyalahkan, melainkan komitmen kolektif untuk menjaga Mandalika agar tetap aman, nyaman, dan berkelanjutan,” pungkas Dr. Aka. (*)






