URBANCITY.CO.ID — Benteng surplus. Di balik riuh rendah proteksionisme global dan lesunya harga komoditas dunia, neraca perdagangan Indonesia justru mencatatkan angka yang molek.
Sepanjang 2025, Indonesia berhasil membukukan surplus sebesar USD 41,05 miliar—sebuah lonjakan signifikan sebesar 31,03 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini seolah menjadi oase di tengah gersangnya pasar internasional yang kian tertutup.
Menteri Perdagangan Budi Santoso, atau yang akrab disapa Busan, tampak sumringah saat memaparkan capaian tersebut dalam media briefing di Jakarta, Jumat, 6 Februari lalu.
Baginya, surplus ini bukan sekadar deretan angka di atas kertas, melainkan bukti ketangguhan struktur ekspor nasional yang kini kian didominasi oleh sektor manufaktur.
Baca Juga: Mendag Busan Dorong Industri Baja Nasional di Tengah Surplus Perdagangan
“Tentu banyak tantangan global saat ini yang kita hadapi, tapi kita tetap optimistis kinerja perdagangan kita akan tumbuh dengan baik,” ujar Busan.
Optimisme itu bukan tanpa dasar; hingga Desember 2025, Indonesia mencatatkan surplus bulanan selama 68 bulan berturut-turut—sebuah rekor maraton yang dimulai sejak fajar pandemi Mei 2020.
Manufaktur Jadi Panglima
Struktur ekspor Indonesia kini tak lagi hanya bergantung pada “kerukan tanah”. Sektor industri pengolahan (manufaktur) tampil sebagai panglima dengan kontribusi masif 80,27 persen.
Menariknya, sektor pertanian pun mulai menunjukkan taji dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 21,01 persen. Di sisi lain, potret impor menunjukkan geliat industri yang sehat; meskipun impor barang konsumsi turun, impor barang modal justru melonjak 20,06 persen.




