Baca Juga: Busan Janji Perkuat Perdagangan Indonesia di Tengah Badai Global
“Komposisi ini mencerminkan aktivitas industri dalam negeri yang masih kuat karena impor lebih banyak digunakan sebagai input produksi,” tegas Busan.
Untuk mengamankan pasar, Kemendag tak sekadar duduk manis. Sepanjang 2025, Jakarta gencar bergerilya di meja perundingan. Dari Peru hingga Kanada, berbagai perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif (CEPA) diteken untuk meruntuhkan tembok tarif.
Tak hanya itu, Indonesia juga memenangi sengketa dagang di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) melawan Uni Eropa terkait biodiesel dan baja nirkarat—sebuah kemenangan hukum yang mengamankan devisa triliunan rupiah.
Melirik Desa, Menuju 2026
Menatap 2026, Busan telah menyiapkan tiga jurus utama. Selain mengamankan pasar domestik dari serbuan barang ilegal dan pakaian bekas, fokus akan dialihkan pada program “Dari Lokal untuk Global”. Program ini bertujuan menyisir potensi ekspor hingga ke pelosok melalui “Desa BISA Ekspor”.
Baca Juga: Mudahnya Penebusan Pupuk Subsidi bagi Petani Terdaftar, Tak Perlu Panik Saat Sakit
Sasarannya jelas, inklusivitas. Kemendag ingin memastikan bahwa ekspor bukan hanya hajatan korporasi besar di kota metropolitan, tapi juga petani di desa dan pelaku UMKM yang inovatif.
Dengan target pertumbuhan ekonomi dunia di angka 3,1 persen, Busan yakin bahwa diversifikasi pasar ke wilayah non-tradisional seperti Asia Tengah dan Afrika Barat akan menjadi kunci.
Perjalanan 2026 memang diprediksi bakal terjal, namun dengan surplus USD 41 miliar di kantong, Indonesia setidaknya punya bantalan yang cukup empuk untuk menghadapi guncangan di pasar global.






