Ia menambahkan, ketergantungan pada stimulus pemerintah dan program hilirisasi perlu segera diimbangi dengan diversifikasi pasar ekspor. Langkah ini krusial untuk memitigasi risiko perlambatan ekonomi dari negara-negara mitra dagang utama Indonesia.
Baca Juga:Â Bank Indonesia Rilis Kalkulator Hijau untuk Hitung Emisi dari Aktivitas Ekonomi
Risiko Pertumbuhan Stagnan
Tahun 2026 diprediksi menjadi ujian bagi sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Noviardi memperingatkan bahwa stabilitas yang ada saat ini hanyalah fondasi awal yang rapuh jika tidak diikuti oleh akselerasi nyata di sektor industri dan perbaikan iklim investasi.
“Menjaga stabilitas adalah fondasi. Tetapi tanpa percepatan reformasi struktural—baik di sektor keuangan, industri, maupun iklim investasi—pertumbuhan berisiko stagnan di level moderat,” jelasnya menanggapi risiko divergensi pertumbuhan global.
Sebagai rekomendasi, Noviardi menyarankan agar Bank Indonesia tetap memantau ruang pelonggaran terbatas jika inflasi melandai di masa depan.
Namun, keberhasilan kebijakan ekonomi tahun ini sangat bergantung pada kemampuan pemerintah mentransformasi stabilitas moneter menjadi produktivitas sektor riil yang nyata di lapangan. (*)






