URBANCITY.CO.ID – Korupsi selalu menjadi masalah yang mengganggu pembangunan dan kepercayaan masyarakat di Indonesia. Meskipun banyak kampanye anti korupsi dan upaya reformasi dalam sistem birokrasi, kebocoran anggaran dan manipulasi data masih sering terjadi.
Kini, muncul pertanyaan penting: adakah teknologi yang bisa memberikan transparansi mutlak dan rekam jejak yang tak terbantahkan? Di sinilah teknologi blockchain mulai menarik perhatian.
Blockchain bukan hanya sekadar tren kripto, tetapi memiliki potensi besar untuk merombak sistem pemerintahan menjadi lebih jujur dan akuntabel. Jika kamu mengikuti berita tentang cryptocurrency, kamu mungkin sudah mendengar bahwa beberapa negara mulai bereksperimen dengan blockchain untuk layanan publik, seperti e-voting dan pencatatan kepemilikan aset.
Mengapa Korupsi Masih Sulit Diberantas?
Salah satu penyebab utama korupsi adalah kurangnya transparansi dalam sistem informasi. Banyak proses birokrasi dan pengeluaran anggaran yang tidak jelas. Laporan keuangan bisa dimanipulasi, data penerima bantuan bisa diubah, bahkan dokumen digital pun bisa diedit tanpa jejak.
Hal ini membuat pengawasan menjadi sulit, baik oleh masyarakat, auditor, maupun lembaga penegak hukum. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem yang tidak hanya transparan, tetapi juga tidak bisa diubah tanpa meninggalkan jejak digital yang jelas.
Baca Juga : Rutan KPK Penuh, KPK Tetap Berkomitmen Usut Kasus Korupsi
Bagaimana Cara Kerja Blockchain dalam Menciptakan Transparansi?
Blockchain adalah sistem pencatatan digital yang terdesentralisasi. Semua data yang masuk tercatat dalam blok, dan setiap blok baru harus terhubung dengan blok sebelumnya, menciptakan rantai data yang tidak bisa diubah (immutable).
Artinya, jika digunakan dalam sistem anggaran pemerintah, maka:
- Setiap transaksi keuangan akan tercatat secara permanen.
- Setiap perubahan perlu disetujui oleh banyak pihak (consensus).
- Riwayat dana bisa ditelusuri oleh publik secara real-time.
Sifat inilah yang membuat blockchain sangat ideal untuk digunakan dalam sistem publik yang rentan terhadap penyalahgunaan.
Negara-Negara yang Sudah Menerapkan Blockchain untuk Pemerintahan
Beberapa negara telah membuktikan bahwa blockchain bisa lebih dari sekadar platform kripto:
-
Estonia: Mengintegrasikan teknologi ini dalam sistem identitas digital dan pertukaran data antar lembaga. Semua data administratif, mulai dari catatan kesehatan hingga kependudukan, mengalir dengan transparan.
-
Thailand: Telah menguji sistem e-voting berbasis blockchain sejak 2018, mencatat lebih dari 120.000 suara secara aman.
-
UAE (Dubai): Mengembangkan sistem pencatatan akta kelahiran, kontrak, dan rekam medis berbasis blockchain dalam proyek smart city mereka.
-
India: Menggunakan blockchain dalam proyek Land Stack untuk mencatat kepemilikan tanah secara transparan dan terverifikasi.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa blockchain bukan sekadar konsep futuristik, tetapi sudah mulai digunakan untuk membangun tata kelola yang bersih dan efisien.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia sebenarnya sudah mulai menunjukkan keseriusan dalam memanfaatkan potensi blockchain. Pemerintah telah menerbitkan PP No. 28 Tahun 2025, yang secara eksplisit mengakui blockchain sebagai teknologi strategis nasional, sejajar dengan AI dan big data.
Beberapa inisiatif pilot juga telah disebutkan, seperti:
- Kajian Kominfo dan BSSN untuk penggunaan blockchain dalam bantuan sosial dan aset negara.
- Uji coba daerah, seperti di Provinsi Jawa Barat, untuk manajemen data publik.
- Riset kampus dan kementerian terkait penerapan blockchain di bidang pendidikan dan sertifikat digital.
Namun, semua ini masih dalam tahap awal. Belum ada implementasi nyata dalam skala nasional yang menyentuh langsung sektor yang paling rentan, seperti pengadaan barang/jasa dan distribusi dana publik.
Tantangan & Peluang
Adopsi blockchain dalam pemerintahan memang tidak tanpa tantangan. Beberapa kendala nyata yang harus dihadapi antara lain:
- Rendahnya literasi digital di kalangan aparat birokrasi.
- Ketidakpastian regulasi teknis.
- Resistensi dari pihak-pihak yang diuntungkan oleh sistem lama.
Namun, peluangnya jauh lebih besar. Dengan infrastruktur digital yang terus berkembang dan tekanan publik yang semakin tinggi terhadap transparansi, adopsi blockchain bisa menjadi titik balik dalam sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia.
Baca Juga : Bayi di Kolombia Diberi Nama “Chat Yipiti” Terinspirasi dari Kecerdasan Buatan
Kesimpulan: Blockchain Bukan Sekadar Teknologi, Tapi Harapan Baru
Teknologi tidak bisa menggantikan integritas, tetapi bisa menciptakan sistem yang memaksa transparansi dan akuntabilitas, bahkan dari mereka yang sebelumnya enggan terbuka. Blockchain bukan jaminan bebas korupsi, tetapi memberikan infrastruktur yang jauh lebih sulit dimanipulasi.
Jika pemerintah berani mengambil langkah ini secara serius dan bukan sekadar jargon digitalisasi, mungkin ini adalah babak baru dalam perang panjang melawan korupsi. Kita bisa berharap untuk melihat lebih sedikit berita tentang korupsi dan lebih banyak tentang kepercayaan publik yang pulih.
FAQ
-
Apa itu blockchain dan kenapa cocok untuk pemerintahan?
Blockchain adalah sistem pencatatan data yang terdesentralisasi dan tidak bisa diubah. Ini cocok untuk mencatat transaksi publik karena bersifat transparan dan aman dari manipulasi. -
Apakah Indonesia sudah memakai blockchain untuk birokrasi?
Belum sepenuhnya. Indonesia baru mengakui blockchain sebagai teknologi strategis dan masih dalam tahap kajian untuk sektor-sektor seperti bantuan sosial, pendidikan, dan aset negara. -
Apakah blockchain bisa benar-benar mencegah korupsi?
Blockchain tidak bisa mencegah niat jahat, tetapi bisa membuat sistem lebih sulit dimanipulasi. Setiap transaksi tercatat permanen dan bisa diaudit oleh publik. -
Apa bedanya blockchain dengan sistem database biasa?
Blockchain menyimpan data dalam rantai blok yang saling terhubung dan diamankan dengan kriptografi. Ini membuatnya tidak bisa diubah sepihak tanpa persetujuan jaringan.




