Baca Juga: BNI Tingkatkan Peran Agen46 melalui Program Apresiasi SPEKTA 2025
Kualitas aset BNI membaik signifikan. Rasio non-performing loan (NPL) bruto turun menjadi 1,9 persen, atau membaik 10 basis poin YoY, sementara Loan at Risk (LaR) 8,5 persen, turun 1,8 persen YoY.
Ini menunjukkan pemulihan dari dampak pandemi. NPL coverage ratio 205,5 persen dan LaR coverage ratio 46,9 persen menegaskan pencadangan prudent.
“Kami terus memperkuat proses underwriting, pemantauan portofolio secara granular, serta penanganan kredit bermasalah secara dini. Pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali,” jelas Paolo.
Dengan fondasi tersebut, BNI membukukan laba bersih konsolidasi Rp20 triliun. Di sisi keberlanjutan, Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, menekankan komitmen BNI sebagai pionir green banking.
Baca Juga: BNI Apresiasi Juara Tunggal Putra Alwi Farhan di Indonesia Masters 2026
Portofolio pembiayaan berkelanjutan mencapai Rp197 triliun, atau 22 persen dari total kredit, meliputi energi terbarukan, pengelolaan sumber daya alam, air, limbah, dan UMKM.
“Keberlanjutan bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi, tetapi telah menjadi fondasi strategi bisnis BNI dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar David.
BNI memperluas pembiayaan hijau ke transportasi ramah lingkungan dan sumber daya berkelanjutan. Inisiatif ini mencakup penerbitan Sustainability Bond Rp5 triliun dengan peringkat idAAA, Green Bond Rp5 triliun, dan Sustainability Linked Loan (SLL).






