Di pasar dalam negeri, fokusnya adalah mendorong pelaku usaha lokal agar produk mereka tak hanya berkualitas, tapi juga mampu bersaing dan mendominasi pasar domestik.
Baca Juga: Kemendag Kolab Google Indonesia Manfaatkan Kecerdasan Buatan untuk Mendukung Program UKM BISA Ekspor
“Kita memiliki pasar yang besar, mari kita isi dengan produk-produk dalam negeri. Syaratnya, produk kita harus mempunyai daya saing. Dengan berdaya saing, kita mampu membendung produk asing,” kata Mendag Busan.
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mendapat perhatian khusus. Kemendag memfasilitasi mereka untuk masuk ke ritel modern melalui berbagai penjajakan bisnis. Hasilnya, 80 persen ritel modern kini diisi produk UMKM, sebuah bukti bahwa produk lokal mulai menunjukkan gigi.
“Saat ini, 80 persen ritel modern sudah diisi produk UMKM. Hal ini menunjukkan kalau produk-produk UMKM kita mempunyai daya saing,” ujar Mendag Busan.
Tak berhenti di situ, Kemendag juga mendorong konsumsi produk dalam negeri lewat program belanja nasional. Sepanjang 2025, tiga program besar telah digelar: Every Purchase Is Cheap (EPIC) Sale dengan transaksi mendekati Rp55 triliun, dan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) Rp36 triliun.
Kemudian, Program Belanja di Indonesia Aja (BINA) Great Sale Indonesia 2025 Rp31 triliun. Angka-angka ini mencerminkan upaya untuk membangkitkan ekonomi dari bawah.






