Di kancah internasional, Kemendag mencatat kemajuan signifikan. Sepanjang 2025, lima perjanjian dagang berhasil diselesaikan, membuka pintu bagi produk lokal ke pasar dunia: Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (I-EU CEPA), Indonesia-Canada CEPA, dan Indonesia-Peru CEPA.
Selanjutnya, Indonesia-Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia-EAEU FTA), dan Indonesia-Tunisia Preferential Trade Agreement (PTA). Secara keseluruhan, 20 perjanjian telah diimplementasikan, 15 dalam proses ratifikasi, dan 11 masih dirundingkan.
Fasilitasi ekspor bagi UMKM didukung oleh 46 perwakilan dagang RI di 33 negara. Program UMKM Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor telah memfasilitasi business matching untuk 1.217 pelaku usaha, dengan total transaksi mencapai USD 134,87 juta sepanjang 2025.
Baca Juga: Kemendag Gelar Serah Terima Jabatan Wamendag dari Jerry Sambuaga ke Dyah Roro Esti
“Kami ingin agar pelaku ekspor bukan hanya (pelaku usaha) yang besar. Pelaku usaha menengah dan kecil juga harus bisa ekspor,” ujar Mendag Busan.
Komitmen ini bahkan menjangkau desa-desa melalui Desa BISA Ekspor, yang telah mengkurasi 741 desa siap ekspor. Sementara itu, inisiatif Campuspreneur mengajak mahasiswa, pengusaha, dan pemerintah daerah belajar ekspor lewat magang di kantor Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di luar negeri.
CEO Indonesian Business Council (IBC) Sofyan A. Djalil mengapresiasi dialog tersebut sebagai momentum untuk memacu ekonomi.
“Dialog terbuka merupakan kesempatan yang baik untuk kita manfaatkan. Harapannya, lewat dialog, kita bisa memacu gerak ekonomi kita, khususnya terkait industri dan perdagangan,” ujar Sofyan. (*)






