Baca Juga: Setahun Danantara: Prabowo Tekankan Integritas, PLN Salurkan 5.000 Paket Sekolah
Namun, opsi tersebut akhirnya dikesampingkan karena dianggap tidak cukup kuat untuk menggantikan efektivitas interaksi langsung di ruang kelas.
“Memang pernah ada diskusi tentang kemungkinan penggunaan metode hybrid yang mengkombinasikan luring dan daring. Tetapi, mengingat pentingnya menjaga kualitas pendidikan siswa, pembelajaran daring bagi siswa tidak menjadi sebuah urgensi saat ini,” tandas Pratikno.
Menanti Skema Penghematan Alternatif
Meski sektor pendidikan dipastikan aman dari kebijakan “belajar di rumah”, publik masih menanti langkah konkret pemerintah dalam menekan konsumsi energi nasional.
Hingga kini, Menko PMK belum memberikan keterangan lanjutan mengenai sektor mana yang akan dipangkas konsumsi BBM-nya sebagai substitusi dari pembatalan wacana di sektor pendidikan.
Kebijakan ini disambut baik oleh sejumlah praktisi pendidikan yang khawatir akan dampak jangka panjang jika siswa kembali dipaksa belajar di depan layar.
Pemerintah kini dituntut lebih kreatif dalam mencari skema penghematan energi tanpa harus menggoyahkan fondasi literasi dan numerasi siswa di sekolah. (*)






