URBANCITY.CO.ID – Di sela kunjungan kerjanya usai salat Idulfitri di Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu, 21 Maret 2026, Presiden Prabowo Subianto menyusuri lorong-lorong sempit hunian sementara (huntara). Di salah satu unit, langkah Kepala Negara terhenti.
Ia berbincang dengan Nurita, seorang ibu tunggal yang kehilangan segalanya saat banjir bandang menerjang wilayah tersebut beberapa bulan lalu.
Dengan suara bergetar, Nurita menumpahkan keluh kesahnya. Sudah tiga bulan ia bersama lima anaknya mendiami bilik huntara yang sederhana.
Rumah sewa yang selama ini menjadi tempat bernaung telah rata dengan tanah, disapu arus kencang yang datang tanpa peringatan.
Baca Juga: Berkat Pertamina EP Air Bersih Mengalir, Harapan Bangkit di Aceh Tamiang
“Saya di huntara ini hampir sekitar tiga bulan. Sebelumnya rumah kami habis semua,” ujar Nurita kepada Presiden Prabowo.
Trauma Banjir Bandang
Nurita mengenang detik-detik mencekam saat air naik begitu cepat. Sebagai orang tua tunggal, fokus utamanya hanyalah menyelamatkan nyawa anak-anaknya. Harta benda menjadi nomor sekian ketika alam menunjukkan amuknya.
“Saat kejadian itu, kami pun enggak menduga, enggak sangka-sangka. Kami pikir banjirnya seperti biasa. Jadi kami enggak bawa barang apapun di rumah. Kata anak saya, enggak usah dibawa, Ma. Karena airnya kencang kali,” kenangnya lirih.
Sebelum menempati huntara, Nurita dan anak-anaknya harus bertahan hidup di pengungsian darurat di atas jembatan dan tenda-tenda plastik. Meski kini kondisi fisiknya lebih terlindungi, ketidakpastian masa depan masih menghantui pikirannya.




