Kondisi tersebut mencerminkan tingginya angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia. Artinya, setiap rupiah yang dikeluarkan pemerintah belum menghasilkan output ekonomi yang optimal jika dibandingkan dengan negara tetangga.
Ancaman Overheating dan Inflasi
Stimulus masif seperti MBG dan bansos pangan dinilai efektif mendongkrak konsumsi, namun bersifat high-cost karena tidak langsung menyentuh kapasitas produksi nasional.
Baca Juga: Sinyal Gratis di Selat Ramai: ASDP Siap Eksekusi Stimulus Mudik Lebaran
Noviardi memperingatkan adanya risiko overheating, di mana banjir uang di masyarakat tanpa dibarengi produktivitas manufaktur akan memicu demand-pull inflation.
Jika inflasi melonjak, maka angka pertumbuhan 6 persen menjadi semu karena daya beli riil masyarakat justru tergerus. “Pertumbuhan ini menjadi mahal karena pemerintah harus terus menyuntikkan subsidi dan stimulus untuk menjaga momentum, yang pada gilirannya dapat menekan ruang fiskal di masa depan,” kata Noviardi.
Mendorong Sektor Produktif
Agar Indonesia tidak terjebak dalam pola pertumbuhan yang rapuh, Noviardi menekankan perlunya pengalihan belanja negara dari sektor konsumsi ke sektor produktif, seperti hilirisasi pertanian dan penguatan rantai pasok lokal.
“Tanpa efisiensi belanja dan perbaikan ICOR, Indonesia berisiko terjebak dalam pola pertumbuhan yang mahal namun rapuh, di mana setiap persen kenaikan ekonomi harus dibayar dengan defisit yang melebar dan risiko inflasi yang menghantui,” pungkasnya. (*)






