Dengan strategi ini, Danantara ingin memastikan setiap entitas memiliki spesialisasi yang tajam: Asuransi Umum fokus pada proteksi kerugian aset, sementara Holding Penjaminan fokus menjadi benteng risiko kredit nasional.
Baca Juga: LPS Siap Jalankan Tiga Skema Penjaminan Polis Asuransi Mulai 2027-2028
Di waktu dan tempat terpisah, pengamat Asuransi Wahju Rohmanti menilai IFG tepat sebagai holding asuransinya kedepannya karena memiliki tujuan jelas yaitu memperkuat perusahaan-perusahaan asuransi BUMN melalui pengelolaan yang terpusat.
“Tentu implementasinya adalah agar mereka (perusahaan asuransi dan reasuransi BUMN) beroperasi efisien dan sehat secara keuangan,” ujar Wahju beberapa Waktu lalu.
Lebih lanjut, dirinya menekankan pentingnya kewenangan penuh bagi IFG, termasuk melakukan restrukturisasi jika ada anggota holding yang mengalami sakit atau masalah keuangan.
Sependapat dengan Wahju, pengamat Asuransi Irvan Rahardjo memberikan dukungan terhadap konsep IFG sebagai rumah besar asuransi BUMN. “IFG bagus menjadi rumah besar holding asuransi,” ujarnya singkat.
Baca Juga: Industri Asuransi RI Siap Meroket, Penetrasi Rendah Jadi Peluang Besar
Adapun Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memberi dukungan pada rencana transformasi tersebut sepanjang tetap mempertimbangkan keberlanjutan layanan kepada pemegang polis, menjaga daya saing pasar yang sehat, serta memperhatikan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan risiko.
“Prosesnya harus dilakukan dengan hati-hati dan bertahap, karena harus memasukan integrasi tata kelola risiko, budaya organisasi, dan manajemen portofolio,” tukas Ketua Umum AAUI, Budi Herawan. (*)






