Begitu sistem mendeteksi kekurangan daya akibat penurunan gas, pemutusan beban dilakukan otomatis berdasarkan prioritas. Mulai dari Level 1 untuk beban non-esensial, hingga Level 10—beban paling kritis seperti Gathering Station dan sumur produksi tertinggi.
Baca Juga: PHR Resmikan Substation Pematang, Dukung Peningkatan Produksi Migas
“Secara sistem, prioritas pemadaman otomatis ini bekerja hingga level feeder (jaringan). Sistem langsung memilah mana jaringan dengan produktivitas terendah yang harus dilepas duluan demi menyelamatkan jaringan vital. Ini pertimbangan safety dan ekonomi yang berjalan dalam hitungan detik,” tambah Winarto.
Tapi algoritma punya batas. Saat krisis berlarut dan kondisi lapangan berubah cepat, peran manusia menjadi penentu. Manajemen PHR segera mengaktifkan Incident Management Team (IMT), struktur komando darurat yang memusatkan kendali operasi. Di bawahnya, strategi pemulihan dijalankan terkoordinasi.
Jika sistem otomatis seperti autopilot, maka Fungsi PRIME (Production Reliability & Innovation Management) berperan sebagai Air Traffic Control, mengatur ritme operasi agar produksi optimal. Di bawah kepemimpinan Senior Manager Desy Kurniawan, PRIME menjadi pusat kendali utama Zona Rokan selama krisis.
Desy menegaskan, keberhasilan ini lahir dari kolaborasi lintas fungsi di bawah IMT—dari PRIME, Productions & Operations, Power Generation & Transmission, hingga Hydrocarbon Transportation.
Baca Juga: Gangguan Gas di Rokan: Tim PHR Berjuang Selamatkan Energi Nasional






