Setiap hari, tim menghitung Loss of Production, memantau fasilitas, dan menyusun strategi pemanfaatan gas terbatas untuk maksimalkan produksi minyak.
“Di sinilah peran PRIME menyusun strategi ramp-up. Mereka melakukan kalkulasi perkiraan produksi berdasarkan ketersediaan gas yang ada. Ini seperti mengatur lalu lintas udara yang sangat padat dengan bahan bakar terbatas,” jelas Desy.
Perlindungan ekstra pada Gathering Station dan sumur prioritas bukan tanpa alasan. Minyak Blok Rokan mudah membeku atau congeal saat suhu turun; aliran berhenti total bisa membuatnya mengeras seperti lilin.
Matinya daya di stasiun juga berisiko overflow—luapan fluida produksi yang membahayakan keselamatan dan lingkungan. Proses ini melibatkan penyesuaian frekuensi listrik dan beban pompa di wilayah seluas 6.200 kilometer persegi, orkestrasi teknis kompleks.
Di bawah tekanan, PHR mengambil keputusan sulit: hentikan sementara pasokan listrik ke fasilitas pendukung dan sumur marginal berproduksi rendah. Energi dialihkan ke sumur prioritas. Hasilnya luar biasa—data IMT menunjukkan lebih dari 7.000 sumur prioritas tetap beroperasi tanpa gangguan.
Baca Juga: Cegah Pencurian, PHR Zona 4, SKK Migas dan Kepolisian Bersinergi
“Kami kehilangan sebagian potensi produksi, itu fakta yang tak terelakkan. Tapi strategi ini berhasil mencegah kerugian yang jauh lebih masif. Kami menyelamatkan aset vital negara dari kerusakan permanen,” tambah Desy.
Incident Commander IMT, Endah Rumbiyanti, menilai ini bukti ketahanan energi tak hanya bergantung teknologi, tapi sumber daya manusia.






