Pulihkan Akses di Wilayah Bencana
Tak hanya di timur Indonesia, Pertamina juga bergerak cepat di Sumatra pascabencana banjir yang memutus akses sanitasi.
Warga sempat terpaksa menyaring air parit yang keruh kecokelatan—atau yang mereka istilahkan sebagai “air cappuccino”—demi bertahan hidup.
Baca Juga: Lebaran di Tengah Laut: Dedikasi Pelaut Pertamina Jaga Pasokan Energi Idulfitri
Merespons kondisi darurat tersebut, Pertamina membangun 25 sumur baru dan mereaktivasi 43 sumur warga yang terdampak lumpur. Selain itu, 5 juta liter air disalurkan melalui truk tangki untuk membantu lebih dari 17.000 jiwa.
“Sangat membantu sekali air bersih ini. Sebelumnya kami pakai air parit. Begitu bantuan air ini masuk sekitar dua minggu setelah kejadian, kami benar-benar terbantu,” ungkap Yanti, seorang penyintas di Sumatra.
Langkah masif ini merupakan bagian dari kontribusi Pertamina terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-6 mengenai air bersih dan sanitasi layak.
Dengan memperkuat ketangguhan masyarakat terhadap perubahan iklim dan bencana, Pertamina membuktikan bahwa kehadiran korporasi harus dirasakan hingga ke depan pintu rumah warga yang paling membutuhkan. (*)






