URBANCITY.CO.ID – Meski mencatatkan perbaikan kinerja keuangan dan operasional yang signifikan sepanjang 2025, PT PLN (Persero) dinilai masih menghadapi kerentanan struktural jangka panjang. Ketergantungan tinggi pada subsidi negara dan beban utang yang jumbo menjadi tantangan besar bagi kesehatan finansial perseroan di masa depan.
Pengamat ekonomi energi, Noviardi Ferzi, menyoroti bahwa capaian impresif PLN tahun lalu belum sepenuhnya mencerminkan kesehatan fundamental. Ia mencatat, beban utang perseroan masih bertengger di angka Rp711 triliun dengan ketergantungan subsidi APBN mencapai Rp177 triliun.
“Tanpa subsidi, potensi kerugian bahkan bisa mencapai Rp160 triliun. Ini perlu direformasi, bukan sekadar dikelola,” kata Noviardi seperti dilansir dari terpantau.com, Rabu, 18 Januari 2026.
Rekor Laba di Tengah Beban Utang
Secara tahunan, performa PLN memang menunjukkan tren positif dibandingkan 2024. Perseroan diproyeksikan membukukan laba bersih antara Rp12 triliun hingga Rp15 triliun, atau melonjak sekitar 100–130 persen secara tahunan (year-on-year).
Baca Juga: Program BPBL ESDM-PLN: 750 Keluarga Prasejahtera di Bengkulu Dapat Sambungan Listrik Gratis
Lonjakan ini didorong oleh pendapatan usaha yang diperkirakan menembus Rp550–580 triliun, melampaui target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) sebesar Rp545 triliun.
Penjualan listrik pun mendekati 310 TWh, ditopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 6,62 persen dan sektor industri 4,17 persen.
Namun, Noviardi mengingatkan adanya risiko valuta asing dari kontrak Independent Power Producer (IPP). Setiap depresiasi rupiah sebesar Rp1 berpotensi menambah beban biaya sekitar Rp10 miliar.




