Selain itu, kondisi oversupply (kelebihan pasokan) di sejumlah wilayah memaksa PLN tetap membayar kewajiban meski listrik tak terserap optimal.
Desakan Reformasi Fundamental
Meski mengapresiasi langkah digitalisasi yang berhasil memangkas utang berbunga sekitar Rp46,7 triliun, Noviardi menegaskan bahwa PLN membutuhkan pembenahan di level akar. Ia menekankan tiga poin krusial untuk keberlanjutan perseroan:
Baca Juga: Setrum Murah di Lahan Basah, 390 Ribu Usaha Primer Manfaatkan Program PLN
- Restrukturisasi Kontrak IPP: Menata ulang kontrak pembangkit swasta yang kurang efisien.
- Penataan Portofolio: Mengurangi oversupply secara bertahap agar tidak membebani neraca.
- Transisi Energi Tepat Guna: Memastikan energi terbarukan menggantikan pembangkit mahal, bukan sekadar menambah kapasitas.
“Energi terbarukan harus menggantikan pembangkit berbiaya tinggi, bukan sekadar menambah kapasitas. Setiap proyek harus bankable dan berbasis kebutuhan sistem,” tambahnya.
Noviardi menyimpulkan, meski PLN sudah berada di jalur transformasi, disiplin dalam pengelolaan utang dan keberanian melakukan pembenahan struktural adalah kunci agar kinerja cemerlang saat ini tidak meredup di masa depan. (*)






