URBANCITY.CO.ID – Langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memperkuat kerja sama strategis dengan pemerintah Jepang di Tokyo pada pertengahan Maret 2026 menuai apresiasi. Diplomasi ini dinilai sebagai momentum Indonesia untuk keluar dari bayang-bayang sebagai sekadar pemasok bahan mentah (komoditas).
Guru Besar Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Prof. Henry Indraguna, menyebut manuver Bahlil telah memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem energi global. Menurutnya, Indonesia kini tampil sebagai aktor aktif yang mampu mendikte kepentingannya sendiri di meja perundingan internasional.
“Indonesia tidak lagi menjadi objek dalam relasi kuasa global, namun menjadi subjek yang aktif mendefinisikan kepentingannya sendiri,” kata Henry dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis, 26 Maret 2026.
Henry menilai kunjungan tersebut merupakan upaya konkret untuk mendekonstruksi narasi lama yang menempatkan negara berkembang di posisi inferior dalam rantai pasok global. Ia menekankan bahwa diplomasi ini mendorong Indonesia naik kelas melalui penguasaan nilai tambah
Baca Juga : Arus Balik Sumatera–Jawa: 327 Ribu Penumpang Menyeberang, ASDP Siagakan Skema TBB.
“Ini bentuk kedaulatan yang cair namun kokoh. Menunjukkan hukum nasional kita mampu beradaptasi dengan standar internasional tanpa kehilangan jati diri konstitusionalnya,” ujarnya.
Dalam pertemuan dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, Ryosei Akazawa, Bahlil menyepakati dua nota kesepahaman (MoU) krusial. Fokus utamanya adalah penguatan rantai pasok mineral kritis dan pengembangan teknologi nuklir rendah karbon.
Salah satu poin panas dalam kunjungan tersebut adalah dorongan percepatan investasi oleh Inpex Corporation pada Proyek Gas Lapangan Abadi Blok Masela. Proyek raksasa senilai Rp339 triliun ini dianggap sebagai pilar utama ketahanan energi nasional di masa depan.
Selain gas, pemerintah menawarkan pengelolaan bersama komoditas strategis seperti nikel, bauksit, tembaga, hingga logam tanah jarang. Henry memandang langkah mengamankan teknologi nuklir dan hilirisasi nikel ini sejalan dengan konsep pertumbuhan ekonomi endogen.
“Langkah Pak Bahlil mengamankan teknologi nuklir dan hilirisasi nikel adalah upaya tidak terjebak ke dalam pertumbuhan stagnan. Ini akan tumbuh dari dalam melalui nilai tambah yang berkelanjutan,” tutur Henry.
Integrasi investasi Jepang, mulai dari proyek Asia Zero Emission Community (AZEC), PLTSa Legok Nangka, hingga optimalisasi PLTP Sarulla, diharapkan menciptakan ekosistem ekonomi yang tangguh. Henry menggarisbawahi bahwa kunci dari semua kerja sama ini adalah kepercayaan pasar.
“Kepastian hukum yang ditawarkan dalam proyek Masela memberi sinyal positif bagi pasar global bahwa Indonesia adalah mitra yang kredibel,” ucapnya.
Kendati demikian, Henry memberikan catatan yuridis agar implementasi MoU ini tetap dikawal ketat agar tidak melenceng dari kepentingan nasional. “Pemanfaatan sumber daya alam tidak hanya mengejar angka pertumbuhan, namun juga kemandirian energi yang berkelanjutan,” pungkasnya.




