URBANCITY.CO.ID – Diplomasi. Hanya dua negara OKI yang mengantongi restu WHO, salah satunya Indonesia. Bio Farma tawarkan alih teknologi.
Di tengah dinginnya cuaca Islamabad, Pakistan, pada 9–10 Februari 2026, sebuah urgensi besar dibahas dalam pertemuan ke-4 OIC Vaccine Manufacturers Group (OIC VMG).
Forum yang mempertemukan para produsen vaksin dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) ini kembali menyentil fakta pahit: dari 57 negara anggota, baru segelintir yang mampu berdikari soal vaksin.
Ketergantungan terhadap impor dan rapuhnya rantai pasok pascapandemi menjadi hantu yang menghantui keamanan kesehatan 1,9 miliar penduduk dunia Islam.
Baca Juga: Suntikan Mudik Gratis ala Bio Farma, Ringankan Beban Pemudik Lebaran 2026
Menteri Layanan Kesehatan Nasional Pakistan, Syed Mustafa Kamal, blak-blakan menyebut negaranya masih mengandalkan 13 jenis vaksin impor. Ia pun melempar gagasan pembentukan aliansi vaksin antarnegara OKI untuk mencapai kemandirian pada 2030.
Statistik memang belum berpihak. Saat ini, hanya sepuluh negara OKI yang memiliki fasilitas produksi. Dari jumlah itu, baru Senegal dan Indonesia (melalui Bio Farma) yang produknya mendapat pengakuan standar mutu dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Kondisi inilah yang menempatkan Indonesia pada posisi tawar strategis sebagai Center of Excellence on Vaccine and Biotech Products sejak 2017.
Dalam forum tersebut, Kepala Departemen International Relation Bio Farma, Astri Rahmawati, menegaskan bahwa kemandirian tak bisa diraih dengan jalan pintas.




