“Bio Farma meyakini bahwa kemandirian vaksin di kawasan OKI hanya dapat dicapai melalui sinergi yang mencakup penguatan fasilitas produksi, transfer teknologi, harmonisasi standar mutu, serta pengembangan sumber daya manusia,” ujar Astri.
Baca Juga: Bio Farma Dorong UMKM Kreatif Naik Kelas di INACRAFT 2026
Ia menambahkan bahwa Bio Farma bukan sekadar mencari pasar, melainkan siap berbagi “resep”. Melalui proyek reverse linkage bersama Institut Pasteur de Dakar di Senegal yang disokong Islamic Development Bank, Indonesia telah memulai langkah konkret alih teknologi.
“Indonesia melalui Bio Farma siap menjadi mitra strategis dalam membangun ekosistem manufaktur vaksin yang berkelanjutan dan berstandar internasional di negara-negara OKI,” tuturnya.
Bagi Bio Farma, BUMN farmasi yang berdiri sejak era kolonial 1890, peran ini bukan hal baru. Dengan kapasitas produksi 3,1 miliar dosis per tahun, mereka telah memasok kebutuhan imunisasi ke lebih dari 150 negara.
Di Islamabad, Indonesia kembali mempertegas posisinya: bukan sekadar tukang jahit vaksin, melainkan arsitek keamanan kesehatan bagi negara-negara muslim di seluruh dunia. (*)






