URBANCITY.CO.ID – Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan kenaikan tarif impor untuk sejumlah negara, termasuk Indonesia, dalam konferensi pers Rabu (2/4) waktu AS. Kebijakan yang disebutnya “Liberation Day” ini memukul eksportir RI dengan tarif 32%, lebih rendah dari China (34%) namun lebih tinggi dari Malaysia (24%).
Benny Soetrisno, Ketua GPEI, menyebut pelaku usaha harus segera beradaptasi. “Pasar Afrika sedang tumbuh dan jadi masa depan ekspor kita,” tegasnya kepada kumparan. Menurutnya, tarif ini justru memberi keunggulan kompetitif dibanding China dan Vietnam, asalkan RI memperkuat diplomasi dagang dan diversifikasi pasar.
Baca juga: Indeks Kepercayaan Industri Turun, Kemenperin: Masih Karena Banjir Produk Impor
Ancaman di Sektor CPO
Kebijakan AS berpotensi menggeser dominasi CPO Indonesia di pasar global. Dengan tarif lebih rendah, Malaysia diprediksi merebut pangsa ekspor ke AS. “Fokus kita harus ke Asia: China, India, hingga Bangladesh,” ujar Benny. Dia mendorong pemerintah memperjuangkan skema General Special Preference (GSP) untuk melindungi produk manufaktur dan UMKM.
Langkah antisipasi kini jadi kunci agar RI tak terjebak dalam perang dagang yang kian panas.
Dapatkan Informasi Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS