Senada dengan itu, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menegaskan urgensi transisi ini. Program Biorefinery Cilacap dan pembangunan pabrik Bioethanol Glenmore ini diharapkan dapat mewujudkan transisi energi ramah lingkungan.
Baca Juga: Berkat Pertamina EP Air Bersih Mengalir, Harapan Bangkit di Aceh Tamiang
“Harapan lain aalah potensi menurunkan impor Avtur dan BBM, mendukung Peta Jalan penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF), program transisi dan swasembada energi di Indonesia,” jelasnya.
Sementara itu, di ujung timur Jawa, kolaborasi terjalin antara Pertamina New and Renewable Energy dengan PT Sinergi Gula Nasional (SGN). Di Glenmore, tebu tak lagi sekadar urusan pemanis mulut, tapi dikonversi menjadi bioethanol dengan kapasitas 30 ribu kiloliter per tahun.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyebutnya sebagai sinergi energi dan rakyat.
“Pembangunan ini merupakan bentuk nyata kolaborasi Pertamina dengan PTPN untuk menghasilkan energi bersih untuk rakyat. Selain itu, melalui kolaborasi ini kami dapat mendorong perekonomian rakyat yang menumbuhkan swasembada energi,” ungkap Agung.
Bagi Pertamina, dua proyek ini adalah jawaban atas kritik ketergantungan impor BBM. Targetnya jelas, ekonomi yang tumbuh tanpa harus mengorbankan paru-paru negeri.
Dengan memanfaatkan minyak jelantah dari ribuan rumah tangga di Cilacap dan tebu dari petani di Banyuwangi, BUMN energi ini sedang mencoba membuktikan bahwa kemandirian bisa dimulai dari sumber daya domestik yang selama ini terabaikan. (*)






