Sepanjang 2025, PHR sukses mengebor 605 sumur, melampaui target awal sebanyak 555 sumur. Strategi penjadwalan dinamis berhasil memangkas waktu siklus Put on Production (POP) dari 30 hari menjadi hanya 2-3 hari.
Tak hanya soal produksi, PHR juga dinilai unggul dalam pengelolaan kegiatan pasca-operasi melalui proyek Abandonment and Site Restoration (ASR) Paket 1 dan 2.
Proyek ini mendapat predikat The Most Cost-Efficient ASR berkat digitalisasi data dan pemantauan berbasis Power BI yang mampu menekan biaya tanpa melanggar regulasi.
Baca Juga: Dari Krisis Energi ke Presisi Operasi, Ini Strategi PHR Selamatkan Blok Rokan
Selain itu, percepatan juga terjadi di lapangan Padang Pancuran (PPC-001) yang berhasil onstream lebih awal pada Desember 2025 melalui optimasi fasilitas eksisting.
Komitmen untuk Ketahanan Energi
Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, menegaskan bahwa capaian ini adalah refleksi dari disiplin manajemen proyek dan kolaborasi lintas fungsi yang solid.
“Penghargaan ini merupakan refleksi komitmen kami dalam menjaga ketahanan energi nasional. Dari peningkatan recovery factor melalui CEOR, percepatan pemboran untuk menjaga level produksi, hingga efisiensi ASR dan percepatan onstream lapangan baru, semuanya terintegrasi dalam satu tujuan: memastikan energi tetap tersedia untuk Indonesia,” ujar Muhamad Arifin.
Menurut Arifin, PHR akan terus memperkuat eksekusi proyek berbasis inovasi guna mengejar target produksi nasional sekaligus menjaga keberlanjutan operasi jangka panjang di blok migas paling produktif di Indonesia tersebut. (*)






