URBANCITY.CO.ID – Program kolaborasi Pemerintah Indonesia dan UNDP, Enhancing Readiness for the Transition to Electric Vehicles (ENTREV), menyoroti pergeseran tren pasar kendaraan listrik tanah air.
Masyarakat dinilai kian bijak dan rasional dalam memilih kendaraan listrik (EV), sebuah sinyal positif bagi keberlanjutan ekosistem transportasi rendah emisi di masa depan.
Dalam Workshop Penyelarasan Kurikulum Kendaraan Listrik di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026, ENTREV mengungkapkan bahwa adopsi EV kini tumbuh berbasis kesadaran akan manfaat jangka panjang, bukan sekadar mengikuti tren sesaat atau fear of missing out (FOMO).
Efisiensi biaya operasional dan kemudahan perawatan menjadi daya tarik utama bagi para pembeli.
National Project Manager ENTREV, Nasrullah Salim, mengapresiasi tingkat literasi masyarakat yang semakin membaik. Menurutnya, mobil listrik kini dipandang sebagai solusi mobilitas nyata, bukan sekadar simbol status sosial.
Baca Juga: SPKLU Ultra Fast Charging 480 kW Hadir di Serpong: Cas Mobil Listrik Cukup 20 Menit
Perkembangan sikap konsumen ini patut diapresiasi karena menandakan bahwa masyarakat tidak lagi melihat mobil listrik sebagai simbol gaya hidup semata, tetapi sebagai solusi mobilitas yang efisien dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari.
“Konsumen yang rasional akan mendorong industri untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan infrastruktur pendukung,” ujar Nasrullah Salim.
EV sebagai Kendaraan Kedua dan Ketiga
Data dari Sun Motor Group memperkuat temuan tersebut. Karakter pembeli mobil listrik saat ini didominasi oleh konsumen berpengalaman yang sebelumnya sudah memiliki kendaraan konvensional (ICE). Mereka menjadikan EV sebagai tambahan armada untuk mengejar kenyamanan dan penghematan biaya rutin.




