Tawa menjadi energi yang meruntuhkan sekat-sekat perbedaan di kota yang terletak di tepian Selat Malaka tersebut.
Dampak Ekonomi dan Pergerakan Wisatawan
Data menunjukkan momentum Festival Perang Air tahun ini berhasil menggerakkan mobilitas penumpang masuk ke Kepulauan Meranti sebanyak 20.475 orang. Angka ini meningkat 1,79 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.
Baca Juga: Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Magnet Wisata Spiritual Dunia
Lonjakan ini memberikan napas segar bagi ekonomi lokal. Okupansi penginapan tercatat penuh, transportasi laut meningkat tajam, hingga transaksi UMKM lokal—terutama produk olahan sagu yang menjadi kebanggaan daerah—mengalami perputaran yang signifikan.
Vinsensius menekankan bahwa tantangan ke depan adalah menjaga standar kualitas agar festival ini tetap berkelanjutan.
“Tantangan berikutnya adalah menjaga standar kualitas penyelenggaraan serta memastikan dampak ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan benar-benar dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat,” tuturnya.
Melalui sinergi pemerintah dan warga, Festival Perang Air membuktikan bahwa kekayaan tradisi di wilayah perbatasan mampu menjadi motor penggerak pariwisata nasional sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia. (*)






