“Film keluarga seperti Pelangi di Mars dapat menjadi pilihan tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menghadirkan pesan tentang ilmu pengetahuan, keberanian bermimpi, serta kepedulian terhadap masa depan Bumi,” kata Agustini.
Baca Juga: Menguak Luka Ayah dan Anak dalam Film “Jangan Seperti Bapak”, Tayang 12 Februari 2026
Inovasi Virtual Production dan Misi Masa Depan
Sutradara Upie Guava menjelaskan, Pelangi di Mars lahir dari kegelisahan akan minimnya cerita inspiratif bertema sains bagi anak-anak Indonesia.
Bersama produser Dendy Reynando, ia ingin menghidupkan kembali mimpi menjadi astronom di benak generasi muda.
“Kami tumbuh dengan banyak cerita yang membangkitkan mimpi besar seperti menjadi astronot atau ilmuwan. Melalui Pelangi di Mars, kami ingin menghadirkan kisah petualangan yang dekat dengan sains dan eksplorasi ruang angkasa, sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu anak-anak Indonesia terhadap ilmu pengetahuan sebagai bekal menuju Indonesia Emas,” ujar Upie.
Senada dengan Upie, Dendy Reynando menekankan bahwa seluruh proses teknis digarap oleh tenaga lokal.
Dia bilang, film ini dibuat oleh kreator Indonesia dengan pengembangan teknologi seperti virtual production, animasi berbasis game engine, hingga motion capture yang kami kembangkan bersama tim lokal.
“Ini menunjukkan bahwa industri kreatif Indonesia memiliki kapasitas untuk menghadirkan karya dengan standar produksi yang semakin maju,” imbuh Dendy.






