Dengan daya terbatas, PHR terapkan strategi prioritas atau Pareto. Fokus pada area kritis untuk cegah minyak membeku di stasiun pengumpul dan jaringan pipa.
Sumur produktif tinggi tetap beroperasi lewat sistem pengurangan beban otomatis (load shedding), sementara operasi lain dihentikan sementara. Pendekatan ini selamatkan sebagian besar produksi.
Baca Juga: Cegah Pencurian, PHR Zona 4, SKK Migas dan Kepolisian Bersinergi
Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, sebut ketangguhan pekerja sebagai benteng utama ketahanan energi. Di tengah situasi akibat gangguan pada pihak ketiga seperti ini, ia melihat semangat juang yang luar biasa.
“Tim kami tidak menyerah pada keadaan. Manuver teknis dan strategi prioritas yang mereka lakukan berhasil meminimalkan dampak kehilangan produksi secara signifikan. Jika tidak ada aksi cepat tanggap dan mitigasi yang militan ini, dampak yang ditimbulkan bisa jauh lebih fatal,” tegas Arifin pada Minggu, 25 Januari.
Kini, seiring perbaikan pipa gas, PHR tingkatkan produksi secara bertahap. Meski ada fluktuasi tekanan, stabilitas terjaga berkat kerja IMT. Sumur dan pembangkit yang berhenti sebagian besar kembali beroperasi.
“Ini bukan tentang menyalahkan keadaan, tapi tentang seberapa tangguh kita bangkit dari krisis. PHR telah membuktikan bahwa sistem kami, dan yang terpenting, orang-orang kami, memiliki resiliensi kelas dunia untuk menjaga kedaulatan energi nasional,” pungkas Arifin.
Kisah ini ingatkan bahwa di balik pasokan energi nasional yang stabil, ada dedikasi pekerja yang siaga siang malam hadapi tantangan. (*)






