URBANCITY.CO.ID – Kebijakan tarif timbal balik yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada 2 April 2025 menuai polemik. Dugaan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam perumusan kebijakan tersebut mencuat di media sosial. Sejumlah warganet mengklaim rumus tarif yang diterapkan Trump identik dengan hasil keluaran chatbot AI populer seperti ChatGPT, Gemini, Claude, dan Grok.
DCinvestor, seorang kolektor NFT, menjadi salah satu yang pertama kali menyuarakan kecurigaan ini. Ia mengaku berhasil mendapatkan rumus tarif yang sama persis dengan kebijakan Trump hanya dengan memasukkan prompt sederhana ke ChatGPT. “ChatGPT bilang ini belum pernah diformalkan sebelumnya. FFS, Trump pakai ChatGPT untuk bikin kebijakan dagang,” cuitnya.
Kecurigaan serupa juga diungkapkan oleh trader kripto Cobie.
Baca juga : Kanselir Jerman Sebut Kebijakan Tarif Impor Trump Ancaman Serius bagi Ekonomi Global
Ia meminta ChatGPT untuk memberikan cara mudah menetapkan tarif guna mengimbangi defisit perdagangan, dengan batas bawah 10%. Hasil yang diberikan chatbot AI itu pun sama persis dengan rumus tarif yang diumumkan Trump: membagi nilai defisit perdagangan AS dengan jumlah impornya dari tiap negara.
Wojtek Kopczuk, Editor Journal of Public Economics, bahkan menyindir hasil keluaran ChatGPT tersebut sebagai “pekerjaan murid paling bodoh di kelas – mentah, tanpa perbaikan.” Sementara itu, penulis Krishnan Rohit menyebut kesamaan ini sebagai “aplikasi skala besar pertama AI dalam geopolitik.”
CEO Flexport, Ryan Petersen, dan Editor The Yale Review, James Surowiecki, juga mengonfirmasi keabsahan rumus tarif Trump tersebut.