Gotong Royong vs Gratis: Dilema Jaminan Kesehatan Nasional

Ilustrasi Kartu BPJS (homecare24.id)

URBANCITY.CO.ID – Di tengah gelombang kekhawatiran publik atas penonaktifan kepesertaan BPJS Kesehatan bagi Penerima Bantuan Iuran (PBI), perdebatan tentang jaminan kesehatan universal kembali menyulut api. Isu ini bukan sekadar soal akses medis, melainkan cerminan ketimpangan sosial dan kapasitas negara yang terbatas.

Bagaimana sistem jaminan kesehatan nasional dirancang di Indonesia? Dan mengapa negara tidak langsung saja memberikan layanan kesehatan cuma-cuma kepada seluruh warga, tanpa syarat iuran atau premi?

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, mengurai dilema ini dengan mengacu pada konstitusi. Jaminan sosial memang hak seluruh rakyat, sebagaimana tercantum dalam Pasal 28H Undang-Undang Dasar 1945.

“Pasal 28H menyebutkan bahwa jaminan sosial adalah hak seluruh rakyat,” ujar Timboel, Sabtu (7/2/2026).

Baca Juga : Sinyal Optimisme dari Digit Terakhir, Ekonomi Tumbuh 5,11 Persen

Namun, dalam praktiknya, sistem jaminan sosial nasional (SJSN) di Indonesia dibangun atas prinsip gotong royong, yang mensyaratkan iuran sebagai mekanisme solidaritas.

“Iuran itu bukan sekadar kewajiban, tetapi mekanisme gotong royong agar sistem bisa berjalan,” katanya.

Harapan akan jaminan kesehatan tanpa iuran sering kali terinspirasi dari negara-negara Skandinavia seperti Finlandia, Denmark, dan Swedia, yang mampu menyediakan layanan universal.

“Betul, kita ingin seperti negara-negara Skandinavia. Tapi kondisi fiskal mereka jauh lebih kuat,” jelasnya.

Perbedaan utama terletak pada kemampuan menghimpun pajak. Di sana, tarif pajak mencapai 40–50 persen, dengan rasio pajak sekitar 30 persen. Indonesia, sebaliknya, hanya memiliki tax ratio 9–10 persen. Bahkan kenaikan PPN dari 11 ke 12 persen pun memicu penolakan keras.

“Kalau ingin jaminan kesehatan tanpa syarat, konsekuensinya pajak harus naik. Itu berdampak ke banyak sektor,” ujarnya.

Kenaikan pajak, kata Timboel, bisa mengguncang iklim investasi, lapangan kerja, dan daya beli masyarakat. Inilah yang membuat Indonesia belum siap menerapkan skema gratis seperti negara-negara dengan fiskal kuat.

Di tengah keterbatasan itu, prinsip gotong royong menjadi fondasi utama. Timboel mengajak mereka yang mampu untuk membayar iuran BPJS sesuai ketentuan.

“Bagi yang mampu, ayo bayar. Pilihan iuran ada, misalnya Rp 35.000 untuk kelas 3. Tidak ada kewajiban orang kaya harus di kelas 1,” ujarnya.

Bagi yang miskin, pendaftaran sebagai peserta PBI agar iuran ditanggung negara. Untuk pekerja berupah, aturan pembagian iuran jelas: 5 persen dari upah, dengan 4 persen dari pemberi kerja dan 1 persen dari pekerja. Namun, ketidakpatuhan masih merajalela. Survei Kesehatan Indonesia 2023 oleh Kementerian Kesehatan pada 2024 menunjukkan, 35 persen peserta PBI justru dari pekerja bergaji, termasuk karyawan swasta dan ASN.

“Ini menunjukkan persoalan pendataan dan belum optimalnya pelaksanaan prinsip gotong royong,” kata Timboel.

Dampaknya langsung terasa pada kelompok miskin. Lemahnya kepatuhan dan data akurat menggerus hak mereka.

“Hak orang miskin bisa tergerus karena keterbatasan fiskal. Akibatnya, ada peserta PBI yang dinonaktifkan,” ujarnya.

Iuran ini bukan untuk memiskinkan yang kaya, melainkan menyelamatkan yang sakit dari jurang kemiskinan.

“Pasien cuci darah, kemoterapi, dan penyakit kronis lain harus dibiayai agar tidak jatuh miskin karena biaya kesehatan,” jelasnya.

Pemerintah punya tanggung jawab memastikan Universal Health Coverage (UHC). Pada 2024, cakupan JKN mencapai 98 persen, kini diklaim 100 persen.

“Tinggal memastikan siapa yang mampu membayar sendiri dan siapa yang harus dibayari negara,” katanya.

Baca Juga : Transformasi Digital ASDP Berbuah Manis, Ujung Antrean dalam Genggaman

Jika jumlah miskin bertambah, anggaran bantuan iuran harus disesuaikan.

Akhirnya, kepesertaan JKN bersifat wajib, diatur UU No. 40/2004 tentang SJSN dan Perpres No. 82/2018.

“Sejak 1 Januari 2019, seluruh rakyat wajib ikut jaminan kesehatan. Tidak ada pilihan,” ujarnya.

Masyarakat boleh punya asuransi swasta, tapi JKN tetap wajib. Di balik angka dan aturan, perdebatan ini mengungkap ketegangan antara idealisme universal dan realitas fiskal Indonesia. Apakah negara siap membayar harga untuk kesehatan semua?

Related Posts

Add New Playlist

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
content-ciaa-1701

sabung ayam online

yakinjp

yakinjp

rtp yakinjp

slot thailand

yakinjp

yakinjp

yakin jp

yakinjp id

maujp

maujp

maujp

maujp

sabung ayam online

sabung ayam online

judi bola online

sabung ayam online

judi bola online

slot mahjong ways

slot mahjong

sabung ayam online

judi bola

live casino

sabung ayam online

judi bola

live casino

SGP Pools

slot mahjong

sabung ayam online

slot mahjong

SLOT THAILAND

article 138000556

article 138000557

article 138000558

article 138000559

article 138000560

article 138000561

article 138000562

article 138000563

article 138000564

article 138000565

article 138000566

article 138000567

article 138000568

article 138000569

article 138000570

article 138000571

article 138000572

article 138000573

article 138000574

article 138000575

article 138000576

article 138000577

article 138000578

article 138000579

article 138000580

article 138000581

article 138000582

article 138000583

article 138000584

article 138000585

article 138000586

article 138000587

article 138000588

article 138000589

article 138000590

article 138000591

article 138000592

article 138000593

article 138000594

article 138000595

article 138000596

article 138000597

article 138000598

article 138000599

article 138000600

article 138000601

article 138000602

article 138000603

article 138000604

article 138000605

article 138000606

article 138000607

article 138000608

article 138000609

article 138000610

article 138000611

article 138000612

article 138000613

article 138000614

article 138000615

article 208000451

article 208000452

article 208000453

article 208000454

article 208000455

article 208000456

article 208000457

article 208000458

article 208000459

article 208000460

article 208000461

article 208000462

article 208000463

article 208000464

article 208000465

article 208000466

article 208000467

article 208000468

article 208000469

article 208000470

208000446

208000447

208000448

208000449

208000450

208000451

208000452

208000453

208000454

208000455

article 228000306

article 228000307

article 228000308

article 228000309

article 228000310

article 228000311

article 228000312

article 228000313

article 228000314

article 228000315

article 228000316

article 228000317

article 228000318

article 228000319

article 228000320

article 228000321

article 228000322

article 228000323

article 228000324

article 228000325

article 228000326

article 228000327

article 228000328

article 228000329

article 228000330

article 228000331

article 228000332

article 228000333

article 228000334

article 228000335

article 238000281

article 238000282

article 238000283

article 238000284

article 238000285

article 238000286

article 238000287

article 238000288

article 238000289

article 238000290

article 238000291

article 238000292

article 238000293

article 238000294

article 238000295

article 238000296

article 238000297

article 238000298

article 238000299

article 238000300

article 238000301

article 238000302

article 238000303

article 238000304

article 238000305

article 238000306

article 238000307

article 238000308

article 238000309

article 238000310

article 238000311

article 238000312

article 238000313

article 238000314

article 238000315

article 238000316

article 238000317

article 238000318

article 238000319

article 238000320

sumbar-238000256

sumbar-238000257

sumbar-238000258

sumbar-238000259

sumbar-238000260

sumbar-238000261

sumbar-238000262

sumbar-238000263

sumbar-238000264

sumbar-238000265

sumbar-238000266

sumbar-238000267

sumbar-238000268

sumbar-238000269

sumbar-238000270

sumbar-238000271

sumbar-238000272

sumbar-238000273

sumbar-238000274

sumbar-238000275

sumbar-238000276

sumbar-238000277

sumbar-238000278

sumbar-238000279

sumbar-238000280

sumbar-238000281

sumbar-238000282

sumbar-238000283

sumbar-238000284

sumbar-238000285

sumbar-238000286

sumbar-238000287

sumbar-238000288

sumbar-238000289

sumbar-238000290

sumbar-238000291

sumbar-238000292

sumbar-238000293

sumbar-238000294

sumbar-238000295

sumbar-238000296

sumbar-238000297

sumbar-238000298

sumbar-238000299

sumbar-238000300

sumbar-238000301

sumbar-238000302

sumbar-238000303

sumbar-238000304

sumbar-238000305

sumbar-238000306

sumbar-238000307

sumbar-238000308

sumbar-238000309

sumbar-238000310

sumbar-238000311

sumbar-238000312

sumbar-238000313

sumbar-238000314

sumbar-238000315

sumbar-238000316

sumbar-238000317

sumbar-238000318

sumbar-238000319

sumbar-238000320

content-ciaa-1701